Kamis, Juni 25, 2009

Kado Ulang Tahun Berisi "Tamparan Keras" Dari AMNESTI INTERNASIONAL Bagi POLRI Yang Dituding Brutal Penuh Kekerasan, Kerap Minta Imbalan Uang & Seks

http://www.detiknews.com/images/content/2009/02/10/10/LOGO-POLRI.jpg

Jakarta 25/6/2009 (KATAKAMI) Jika ada pihak yang tahu dan semakin banyak "mendapatkan" fakta-fakta atau informasi baru yang sangat buruk serta negatif di dalam sepak terjang KEPOLISIAN INDONESIA Atau POLRI, maka pastilah akan merasa sangat putus asa. Seperti api dalam sekam.

Berbagai brutalisme, kerakusan, korupsi dan berbagai pelanggaran hukum yang patut dapat diduga dilakukan POLISI INDONESIA, tampaknya sudah tak bisa lagi disembunyikan atau diredam.

http://4.bp.blogspot.com/_WZAg-bwnYvA/SbVJQHl43PI/AAAAAAAAA04/AT0mq1mzyRc/s400/logo%2520amnesty%2520international.jpg

Mari, kami ajak anda menyimak sejenak sebuah berita terbaru yang disiarkan RADIO BBC LONDON.

Polisi Indonesia
Polisi Indonesia mendapat sorotan dari Amnesty International

Amnesty International menyatakan polisi Indonesia masih sering terlibat kekerasan dan penyiksaan para tersangka, demikian laporan RADIO BBC LONDON.

Laporan Amnesty International yang disiarkan hari Rabu ini juga menyebutkan para pelakunya jarang diadili.

Kelompok pegiat hak asasi manusia yang berkantor di London ini seperti dikutip kantor berita Reuters, mengakui berbagai upaya dalam satu dasa warsa ini untuk membuat polisi lebih profesional dan akuntabel.

Namun langkah ini dikatakannya, gagal menghilangkan masalah yang sudah banyak dilakukan.

Wakil Direktur Amnesty International Asia Pasifik Donna Guest seperti dikutip kantor berita Reuters mengatakan, "Dalam beberapa kasus, pelanggaran itu terkait langsung dengan upaya polisi menerima suap dari tersangka."

Disebutkan pula, mereka yang tidak bisa membayar uang suap akan diperlaukan lebih buruk.

Menurut Guest, meskipun para pejabat tinggi di pemerintahan dan polisi etlah membuat komitmen untuk mengadakan perubahan namun tidak sampai kepada kebanyakan polisi.

Kelompok rawan

Laporan itu menemukan, pengguna narkoba, pelanggar hukum yang berulangkali, wanita termasuk pekerja seks komersial rawan terhadap pelanggaran itu.

Dalam beberapa kasus kekerasan terkait dengan upaya polisi mendapat uang suap

Donna Guest, Amesty International

Amnesty mengatakan telah berbicara kepada korban pelanggaran, pejabat polisi, pengacara dan kelompok pegiat HAM dalam dua tahun terakhir saat menyusun laporan ini.

Disebutkan, mekanisme disiplin di dalam kepolisian tidak mampu secara efektif menangani pengaduan atas perilaku polisi sedangkan para korban sering tidak tahu kemana mereka mengajukan laporan.

Amnesty mendesak pemerintah mengumumkan pelanggaran yang sudah sering terjadi itu dan melakukan penyelidikan yang tidak memihak dan efektif terhadap setiap tuduhan.

Juru bicara Kepolisian Indonesia Abubakar Nataprawira membela kinerja 371.000 personil kepolisian.

"Pada tahun 2010 kami menargetkan sebagai lembaga yang disenangi bukan ditakuti masyarakat," katanya seperti dikutip Reuters seraya menambahkan restrukturisasi di kepolisian masih terus berlanjut.

Mekanisme sanksi juga telah diberlakukan untuk menghukum polisi yang menerima uang suap.

http://www.logodesignlove.com/images/classic/amnesty-logo.gif

Kini, kami ajak anda menyimak berita yang disiarkan Radio Nederland BELANDA :

Di Indonesia polisi masih menyiksa dan melakukan pelecehan kaum tertuduh dalam skala besar. Demikian organisasi HAM Amnesty International dalam laporannya yang terbit Rabu.

Walaupun kalangan puncak berjanji akan memberantas keadaan yang tidak beres di korps polisi, namun, demikian Amnesty, kekerasan masih merajalela. Laporan organisasi HAM ini berdasarkan pembicaraan dengan pihak polisi, pengacara dan para korban kekerasan polisi.

Menurut para penyidik, korban utama adalah kaum terlemah masyarakat, seperti pecandu narkoba dan pekerja seks komersial. Perlakuan yang lebih manusiawi bisa diperoleh dengan imbalan seks atau uang. Amnesty International kini menghendaki agar pemerintah di Jakarta mengakui masalah ini dan mengadakan penyidikan independen.

Walaupun sudah menandatangani perjanjian internasional PBB yang menentang kekerasan, namun Indonesia masih belum memiliki UU yang melarang kekerasan jenis itu.


Luar biasa, laporan AMNESTI INTERNASIONAL ini diumumkan persis sehari sebelum peringatan HARI ANTI NARKOBA INTERNASIONAL (HANI) yang diperingati secara rutin setiap tanggal 26 Juni.

Lalu, hanya dalam hitungan beberapa hari ke depan, POLRI akan merayakan HARI BHAYANGKARA atau HARI ULANG TAHUN POLRI pada tanggal 1 Juli 2009.

Belum pernah terjadi dalam sejarah, persis menjelang perayaan HUT POLRI ada laporan internasional yang sangat menampar dan meluluh-lantakkan kehormatan POLRI secara INSTITUSI.

Indonesia tak perlu merasa tersinggung atas hasil investigasi yang akurat dan membanggakan dari AMNESTI INTERNASIONAL. Sebagai lembaga internasional yang sangat kredibel, AMNESTI INTERNASIONAL tentu tidakan sembarangan dalam mempublikasikan hasil investigasi mereka.

Pertanyaan kini adalah, sejauh mana PEMERINTAH INDONESIA menyikapi laporan dan temuan dari AMNESTI INTERNASIONAL ?

Cuek bebek, atau ada itikat baik untuk membenahi dan memangkas semua "kotoran" yang sangat amat belepotan di wajah POLRI ?

Selama ini, semua pemberitaan media massa nasional yang menyoroti berbagai pelanggaran hukum dan semua "rahasia kotor" yang patut dapat diduga menjadi catatan inti dari rekam jejak sejumlah oknum POLISI INDONESIA, seakan kesepian dan tak digubris samasekali. Seakan buta dan tuli terhadap kekritisan media massa nasional.

Hebatnya lagi, patut dapat diduga Komisaris Jenderal Gories Mere yang menjadi BEKING UTAMA dari kasus narkoba yang melibatkan sindikat bandar internasional Liem Piek Kiong alias MONAS, justru dengan percaya diri merusak hebat, menteror dan melakukan upaya pembunuhan yang terencana terhadap KATAKAMI pasca dimuatnya berbagai tulisan mengenai hal ini.

http://data5.blog.de/media/918/3412918_349984e108_s.gif

Patut dapat diduga, sejumlah KOMISARIS BESAR yang menjadi anggota inti dari "KUBU GORIES MERE" ikut dikerahkan untuk menghajar, menggempur, merusak saluran internet dengan menggunakan alat penyadap, melakukan penyadapan ilegal yang terus menerus dan tak pernah berhenti melakukan teror fisik yang mengancam keselamatan jiwa.

Datangnya laporan dan hasil investigasi dari AMNESTI INTERNASIONAL ini merupakan tamparan yang sangat memalukan dan menyakitkan.


Patut dapat diduga, reformasi birokrasi yang didengungkan POLRI beberapa waktu lalu hanya basa-basi dan tak pernah mungkin terealisasi. Inilah buah dari kegagalan kepemimpinan KAPOLRI Jenderal Bambang Hendarso Danuri, terutama Irwasum Komjen Jusuf Manggabarani dan Kadiv. Propam Irjen Oegroseno.

Mengapa disebut kegagalan ?

Ya, sebab temuan dan investigasi yang dilakukan AMNESTI INTERNASIONAL itu dilakukan pada era kekinian bukan pada era kepemimpinan Tri Brata 1 sepuluh atau duapuluh tahun lalu.

AMNESTI INTERNASIONAL berbicara mengenai pelanggaran berat POLRI di era kekinian ! Dan belum pernah terjadi, ada tamparan yang sangat keras dari komunitas internasional yang seburuk ini dalam sejarah perjalanan bangsa terhadap POLRI.

Alangkah malunya INDONESIA, menyaksikan perkembangan POLRI yang sangat carut marut. Komunitas Internasional, ternyata "TIDAK TIDUR" tetapi terus mengamati dan sangat cermat melakukan investigasi langsung di lapangan.

Ada hikmah yang sangat jelas dari semua perkembangan penting ini yaitu POLRI jangan terbiasa menutupi aib dan seakan "SOK" menjaga kehormatan dengan mengamankan oknum PEJABAT atau ANGGOTA yang nyata-nyata melakukan dugaan pelanggaran hukum yang sangat fatal.

http://www.minorityadvocate.com/images/Stop_Police_Abuse.jpg

Kekritisan media dibalas dengan brutalisme.

Kekritisan media dibalas dengan arogansi.

Kekritisan media dibalas dengan kesewenang-wenangan.

Kekritisan media dibalas dengan amukan-amukan yang sangat tidak manusiawi.

Saatnya, PEMERINTAH INDONESIA merombak total kepemimpinan POLRI yang saat ini bercokol, apalagi yang memang patut dapat diduga menjadi BIANG KEROK pelanggaran-pelanggaran hukum yang fatal. Jangan dilindungi. Jangan diamankan. Jangan ditutupi.

Selama ini, POLRI merasa seolah-olah menjadi INSTITUSI yang solid. Padahal patut dapat diduga, didalamnya terdapat banyak faksi, intrik dan berbagai pelanggaran hukum berat yang disembunyikan demi nama baik POLRI.

Ternyata mata dunia melihat dengan seksama. Ternyata telinga dunia mendengar dengan seksama. Betapa malunya jika semua aib dan pelanggaran hukum berat itu terus menerus disembunyikan dan dikubur-kubur dalam-dalam -- tanpa ada kesadaran untuk mereformasi diri dan menegakkan hukum sebagaimana mestinya.

http://gizhel.files.wordpress.com/2008/06/apa-kata-dunia.jpg

Apa kata dunia, demikian slogan yang sangat dikenal sebagai ciri khas tokoh utama dalam film NAGABONAR ?

Kalau terus menerus POLRI membiarkan oknum PEJABAT atau ANGGOTANYA bertindak semena-mena mengangkangi KEMURNIAN PENEGAKAN HUKUM maka tidak tertutup kemungkinan negara-negara sahabat yang selama ini setia mendukung dan memberi bantuan kepada POLRI, akan menarik semua dukungan dan bantuan mereka yang berkelimpahan. Tidak tertutup juga kemungkinan, POLRI akan dikucilkan dari pergaulan internasional.

Berkali-kali, KATAKAMI menghadirkan atau menyelipkan sebuah kalimat bijak dalam berbagai tulisan utama kali yaitu "KEBENARAN ITU IBARAT AIR YANG MENGALIR, IA AKAN MENGALIR WALAU DIBENDUNG".

Pejabat teras setingkat Irwasum dan Kadiv Propam POLRI, harusnya menjadi tulang punggu Kapolri dalam melakukan pengawasan dan penegakan disiplin tetapi patut dapat diduga derasnya aliran informasi yang membuka aib, topeng dan semua rahasia pelanggaran hukum FATAL dari oknum POLRI membuat pejabat-pejabat teras ini patut dipertanyakan integritas dan kinerjanya.


Contoh kecil saja, dalam kasus narkoba bandar Liem Piek Kiong atau MONAS yang ditangkap bulan November 2007 dengan barang bukti 1 JUTA PIL EKSTASI.

Dari 9 orang yang ditangkap, hanya 3 orang yang berkas perkaranya dilimpahkan POLRI kepada KEJAKSAAN AGUNG. Sisanya "dilepaskan". Bahkan, bandar Liem Piek Kiong alias MONAS sudah 3 kali berturut-turut dibebaskan alias diloloskan dari jerat hukum -- sementara isteri dari MONAS alias Cece yang ikut ditangkap di Apartemen Taman Anggota (November 2007), sudah mendapatkan vonis mati dari Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

http://data5.blog.de/media/898/3376898_914dc925ae_m.jpg

Tetapi walau sudah divonis mati, Cece tetap menjadi bandar narkoba dan mengendalikan perdagangan gelap narkoba dari balik jeruji besi di Rutan Pondok Bambu Jakarta Timur --.

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri memerintahkan Irwasum Komjen Jusuf Manggabarani untuk melakukan pemeriksaan intensif sejak bulan Desember 2008 atas kasus rekayasa Berita Acara Pemeriksaan (BAP) sehingga Bandar MONAS bisa lolos dari jerat hukum.

http://data5.blog.de/media/546/3378546_c06894b653_m.gif

Lebih dari 50 orang diperiksa, tapi pemeriksaan itu tidak menyentuh samasekali Komjen Gories Mere yang patut dapat diduga menjadi BEKING UTAMA bandar narkoba MONAS.

Hebatnya lagi, sumber KATAKAMI Di MABES POLRI menginformasikan bahwa Kapolda Riau Indradi Tanos sudah dicopot dari jabatannya sebagai Kapolda -- padahal Indradi Tanos samasekali belum pernah diperiksa oleh Tim Irwasum --. Saat sindikat kemafiaan Liem Piek Kiong alias MONAS ini ditangkap, Indradi Tanos menjabat sebagai Direktur Narkoba Bareskrim POLRI.

Ada tabir misteri yang sangat mengerikan dibalik kasus bandr narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS ini. Dan POLRI, patut dapat diduga sengaja mendiamkan dan membiarkan ketika KATAKAMI dihajar habis-habisan dan diteror dengan sangat brutal mengerikan oleh kubu Komjen Gories Mere karena berani-beraninya memberitakan kasus kotor seputar BANDAR NARKOBA MONAS.

POLRI juga, patut dapat diduga sengaja memdiamkan dan membiarkan ketika KATAKAMI dirusak habis-habisan, disadap, diteror dan diintimidasi -- laptop dan komputer kami semua dirusak --, termasuk nomor koneksi internet M2 yang kami gunakan, tidak ada yang tidak dirusak.

Padahal pada tanggal 14 Januari 2009, kasus pengrusakan terhadap KATAKAMI ini sudah dilaporkan secara resmi ke POLDA METRO JAYA, KOMNAS HAM dan DEWAN PERS. Kepada KOMNAS HAM, penyidik POLDA METRO JAYA menginformasikan carut marutnya dan brutalnya pengrusakan ini disebabnya karena "RUSAKNYA JARINGAN KONEKSI INTERNET". Inilah tulah atau karma yang diterima oleh POLRI.

Bagaimana bisa ada kerusakan jaringan internet, jika yang termuat dari tulisan-tulisan tertentu di KATAKAMI hanya bagian judul saja ? Bagaimana bisa disebut tidak ada pengrusakan oleh pihak lain kalau semua format tulisan, format desain dan tata letak KATAKAMI dan semua BLOG yang kami miliki dirusak habis-habisan ?

Kami menyambut baik, himbauan internasional agar POLRI direformasi secara total. Jangan ada lagi yang dilindungi jika memang melakukan pelanggaran hukum, HAM dan Kemanusiaan. Tidak cuma di dalam kasus bandar narkoba MONAS, tetapi harus dibuka semua dugaan pelanggaran hukum yang sangat fatal dalam penanganan terorisme.

Patut dapat diduga, GORIES MERE terkait dalam peledakan bom di Hotel JW Marriot dan didepan Kedubes Australia. Sumber KATAKAMI di KEPOLISIAN INDONESIA menyebutkan bahwa pasca peledakan bom di Hotel JW Marriot sebenarnya INTERPOL sudah menawarkan bantuan untuk Tim Satgas Bom tetapi ditolak.

Caranya, menurut sumber, patut dapat diduga Tim Satgas Bom menyodorkan 2 juta nomor telepon yang diklaim telah disadap dan perlu dibongkar untuk mengusut kasus peledakan bom di bulan Agustus 2003 tersebut.

Patut dapat diduga, banyaknya nomor telepon yang diklaim telah disadap seputar jaringan Al Jamaah Al Islamyah merupakan rekayasa dan tindakan hiperbola dari Gories Mere sebagai orang yang memimpin penanganan terorisme saat itu.

http://www2.kompas.com/utama/news/0311/14/214229.jpg

Kasus lain yang lebih mencengangkan, sumber KATAKAMI yang notabene adalah Jenderal Berbintang 4 menyebutkan bahwa seorang sahabatnya yang bersekolah di Malaysia telah mendapatkan informasi bahwa sebenarnya gembong teroris dr Azahari BELUM MATI. Sehingga, klaim dari INDONESIA bahwa gembong teroris dr Azahari ini telah ditembak mati pada bulan November 2005 adalah isapan jempol dan rekayasa yang sangat memalukan.

Ini mengingatkan KATAKAMI terhadap sebuah informasi dari wartawan senior yang mendapatkan "cerita tersendiri" dari seorang Mantan Kapolri bahwa saat POLRI mengumumkan dr Azahari telah tewas, Mantan Kapolri ini menghubungi Kapolri (saat itu) Jenderal Sutanto bahwa kebijakan Sutanto agar jenazah "dr Azahari" tidak perlu diotopsi -- karena POLRI meyakini bahwa yang mati itu adalah dr Azahari -- adalah sebuah kebijakan yang sangat ganjil dan bisa mempermalukan Indonesia di mata dunia internasional. Bayangkan, bagaimana mungkin dalam sebuah tindakan penyerangan yang diklaim telah menewaskan gembong teroris berbahaya, jenazahnya tidak diotopsi ? Ada apa dibalik semua itu ?

Entah mau ditaruh dimana muka kita sebagai sebuah BANGSA, disaat lembaga internasional sekredibel AMNESTI INTERNASIONAL menemukan begitu banyak aib, borok, bopeng dan berbagai pelanggaran hukum yang memalukan pada wajah dan tubuh "POLRI".

Belum lagi kalau AMNESTI INTERNASIONAL tahu bahwa oknum Pejabat POLRI -- terutama Kubu Komjen Gories Mere -- menindas jurnalis yang konsisten menyuarakan kebenaran dan keadilan. Tak punya rasa malu dan tidak tahu diri, menyalah-gunakan perangkat penyadapan dan perangkat teknologi yang dibeli dengan UANG RAKYAT tetapi untuk menindas rakyatnya sendiri.

Herannya, didiamkan pula -- dan terkesan sengaja dibiarkan -- oleh Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri.

Terimakasih Tuhan, Terimakasih "DUNIA", Terimakasih AMNESTI INTERNASIONAL dan terimakasih kepada nilai-nilai KEBENARAN yang bermuara para pentingnya upaya penegakan hukum yang murni dan konsekuen.

AMNESTI INTERNASIONAL dan "DUNIA" secara keseluruhan, jangan berhenti hanya sampai disini. Masih ada pertunjukan lain yang besar kemungkinan akan terjadi pada panggung politik PILPRES 2000.

Netralitas POLRI dituntut untuk sangat tegas dilakukan sehingga jangan sampai ada pemaksaan kehendak guna memberikan jalan bagi pasangan Capres - Cawapres tertentu untuk menang.

Ditambah lagi ada duapuluh juta orang rakyat Indonesia tidak bisa memilih pada Pemilu Legislatif bulan April 2009 lalu dan KOMNAS HAM telah merekomendasikan agar 20 juta orang rakyat Indonesia yang dirampas hak politiknya itu WAJIB difasilitasi untuk tetap memberikan hak suaranya.

http://latimesblogs.latimes.com/washington/images/2008/06/04/jimmy_carter_believe_barack_obama_s.jpg

Dan sekedar untuk melengkapi tulisan ini, rasanya seakan-akan komunitas internasional -- termasuk Amerika Serikat -- sudah mulai "kehilangan rasa persahabatan" terhadap rakyat Indonesia sebab pada pelaksanaan Pemilu Legislatif 2009 lalu, tidak ada tim independen dari dunia internasional -- khususnya dari Mantan Presiden Jimmy Carter -- yang ikut membantu memantau dan mengawasi jalannya pesta demokrasi.

Biasanya, tim pemantau asing ini ikut memonitor jalannya pesta demokrasi Indonesia. Tetapi pada Pemilu Legislatif 2009 lalu, tidak ada samasekali kekritisan dari tim pemantau asing yang kredibel untuk mengawal proses demokratisasi di Indonesia. Bukan untuk mencampuri urusan dalam negeri Indonesia sebab tim pemantau independen ini bersifat untuk "menyaksikan" saja.

Terbukti, dengan tidak disaksikannya pesta demokrasi Pemilu Legislatif bulan April 2009 lalu, 20 juta rakyat Indonesia telah dirampas HAK POLITIKNYA dan patut dapat diduga POLRI sengaja tidak mau menerima laporan tindak kecurangan pada pesta demokrasi itu.

http://redaksikatakami.files.wordpress.com/2009/04/1-oao.jpg

DUNIA INTERNASIONAL -- entah itu Amerika Serikat atau negara manapun juga-- janganlah pernah dan janganlah sampai mengurangi rasa persahabatan dan perhatian yang hangat kepada rakyat Indonesia.

Jangan menunggu sampai Indonesia harus hancur lebur dan luluh lantak seperti IRAN -- pasca kekisruhan Pemilu Pilpres disana --.

Akhirnya, sebagai anak bangsa yang mencintai Indonesia dengan sepenuh hati -- termasuk mencintai POLRI secara INSTITUSI -- raanya ikut sedih, malu dan terpukul atas tamparan keras di wajah dan tubuh POLRI dibalik temuan dan hasil investigasi AMNESTI INTERNASIONAL.

Kali ini, kena batunya lu !

(MS)

Rabu, Juni 24, 2009

Tiga Ballerina Dengan Tiga Pilihan Politik Berbeda Dan Kabar Terbaru Yang Mengejutkan Jenderal Wiranto Berhasil Menguasai Panggung Debat Cawapres !

http://www.gifs.net/Animation11/Hobbies_and_Entertainment/Dances_Classic/Ballerina_2.gifhttp://www.gifs.net/Animation11/Hobbies_and_Entertainment/Dances_Classic/Ballerina_2.gifhttp://www.gifs.net/Animation11/Hobbies_and_Entertainment/Dances_Classic/Ballerina_2.gif

Oleh : Mega Simarmata, Pemimpin Redaksi KATAKAMI

Dimuat juga di WWW.KATAKAMIINDONESIA.WORDPRESS.COM dan WWW.KATAKAMIKATAKAMI.VOX.COM

Jakarta 24/6/2009 (KATAKAMI) Bisakah anda bayangkan, kalau misalnya anda punya 3 anak dan ketiganya memiliki pilihan berbeda dalam kehidupan mereka -- termasuk pilihan politik -- ?

Nah, itulah yang saya hadapi sebagai seorang jurnalis yang memang berkecimpung seluruh rekam jejak di dunia kewartawanan selama lebih dari 15 tahun. Menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum Presiden (Pemilu Pilpres) awal Juli mendatang, demam "politik" mulai mewabah juga didalam rumah saya.

Khususnya diantara ketiga puteri yang saya lahirkan seluruhnya melalui proses operasi caesar.

http://www.gifs.net/Animation11/Hobbies_and_Entertainment/Dances_Classic/Ballerina_3.gifhttp://www.gifs.net/Animation11/Hobbies_and_Entertainment/Dances_Classic/Ballerina_3.gifhttp://www.gifs.net/Animation11/Hobbies_and_Entertainment/Dances_Classic/Ballerina_3.gif

Tika atau Skolastika (8 tahun), Mika atau Mikaela (7 tahun) dan Nika atau Gaudensnika (3 tahun). Jangan pikir mereka tidak tahu nama-nama Capres dan Cawapres yang akan bertarung di panggung perpolitikan Pilpres Indonesia.

Mereka hapal luar kepala. Dan sebagai orangtua, asyik asyik saja mengikuti pertumbuhan anak yang mencoba untuk "belajar politik" dengan menilai situasi yang ada di sekeliling mereka -- menurut daya tangkap dan kecerdasan yang mereka miliki masing-masing --.

Ketiga bidadari kecil saya ini, tidak ada yang kompak pilihannya untuk masalah Capres dan Cawapres.

Mereka hanya kompak dalam hal kelincahan menari BALLET karena ketiganya memang sama-sama mengikuti ekstrakulikuler BALLET.

http://www.formatnews.com/photo/1242981485jk%20wiranto.jpg

Bahkan, Tika -- yang sulung -- sudah mencapai grade atau tingkatan yang lumayan tinggi yaitu Grade 2. Tapi untuk urusan "politik", ketiga ballerina ini punya pertimbangan politik masing-masing yang menggelitik hati.

Tika, yang akan segera duduk di kelas 4 SD ini, secara pasti dan lantang mengatakan bahwa ia akan memilih pasangan JK - Wiranto. "Mama, aku mau pilih JK - Win (dia tahu slogan pasangan ini adalah JK - Win, red).

"Oh ya, kenapa Nak ?" tanya saya.

"Begini Mama, pasangan ini pasangan yang tercepat mengumumkan pasangannya mereka, itu lho ... mengumumkan JK - Win. Yang lain lama. Terus, Mama baca dong di iklan-iklan mereka. Mama gimana sih ? JK ... Jaga Keharmonisan ... terus katanya untuk Indonesia yang lebih mandiri, pilih JK - Wiranto" jelas Tika kepada sang "Mama" yang pura-pura tak mengerti soal politik.

http://ichwankalimasada.files.wordpress.com/2009/05/mega-prabowo.jpg

Penjelasan Tika ini, tidak diterima oleh sang adik yaitu Mika -- anak saya yang nomor dua --.

"Huh, kakak payah. Aku pilih Mega - Pro. Mega - Prabowo. Kakak lupa ya, Megawati itu nawarin SEMBAKO MURAH. Mau ... semua semua serba mahal seperti sekarang ? Aku pilih Mega - Pro. Pro Anak Muda, YESSS ! Gitu Mama, tapi iklannya sedikit di televisi. Kenapa ya ? Kalah sama iklannya JK - Wiranto" kata Mika.

Saya hanya tersenyum setiap kali kakak beradik ini berdekat soal pilihan politik mereka.

http://static.tvguide.com/MediaBin/Galleries/Shows/A_F/Di_Dp/DoraTheExplorer/crops/dora-explorer.jpg

Yang seru, kalau anak saya yang paling kecil sudah ikut angkat bicara -- yang notabene jadi musuh bersama kakak-kakaknya sebab si bungsu ini memang modal gertak saja jika mau mendapatkan sesuatu milik kakak-kakaknya --. Dalam keluarga kami, si bungsu in biasa dipanggil DORA. Itu disebabkan karena ia sangat menyukai tokoh kartun DORA THE EXPLORER, dan jangan coba-coba membelokkan jadi DORAEMON, tokoh kartun lainnya yang gendutdan lebih lucu sebenarnya -- sebab si bungsu "DORA" tidak segan-segan menggebuk kalau ada yang salah memanggil dirinya yaitu dari DORA THE EXPLORER menjadi DORAEMON.

Kalau kedua kakaknya sudah bicara "politik", si bungsu ini akan ikut ambil bagian dengan gaya dan logat bicara yang masih sangat cadel.

http://www.animated-angels.com/animated-angels/winter-angels/rose-angel.gif

"Mama, aku pilih PALTAI BUNGA ... aku ketuanya, aku yang pimpin. Aku gak mau pilih SBY, aku pilih PALTAI BUNGA. Kalau PALTAI GELINDLA yang menang, aku mau pilih PALTAI GELINDLA, tapi kata papa PALTAI GELINDLA kalah jadi juara satu. Jadi aku pilih PALTAI BUNGA ya MAMA !" kata si Nika "DORA".

Kalau sudah sok tahu dan "tidak nyambung" seperti ini arah pembicaraan, kedua kakaknya dengan sangat judes tetapi geli mendengar jawaban sang adik, akan ramai-ramai mengoreksi.

"Huuu, Dedek ... gak nyambung banget sih, gak ada lageee, PARTAI BUNGA. Sekarang pilih orangnya Dek, bukan pilih partainya kayak dulu" kata Tika, si sulung yang punya kadar kecuekan sangat amat tinggi dalam sikap dan perilakunya.

"Ah, bial aja, aku mau pilih PALTAI BUNGA, ya kan Mama. Mama pilih siapa ?" tanya si bungsu Nika "DORA".

Nah, kalau sudah ditanya seperti maka saya harus pintar-pintar menjawab.

Sebab, kalau saya jawab yang sejujurnya, mereka akan dengan mudah menceritakan kepada siapa yang mereka jumpai bahwa Sang Mama memilih si A atau si B atau si C. Jadilah, saya menjawab dengan diplomatis saya.

http://static.tvguide.com/MediaBin/Galleries/Editorial/090119/inaugural/inaugural25.jpg

"Kalau Mama, milih Obama dan Joe Biden aja ahhh ....." jawab saya sambil becanda.

Tika, si sulung menjawab "Itu kan di Amerika, Mama. Mama kan harus pilih yang di Indonesia !".

Saya jawab lagi, "Wah, kalau yang di Indonesia, rahasia dong. Pemilu kan bebas dan rahasia".

Seperti itulah gambaran pilihan politik dalam keluarga kami. Saya membiarkan dan mempersilahkan anak-anak saya yang masih di bawah umur ini untuk bicara tentang "politik" sesuai dengan gambaran dan pengertian mereka sebagai anak-anak.

Jika memang ada yang ingin mereka tanyakan, barulah saya menjelaskan.

Dan jika ada yang kurang tepat dari pandangan atau pengertian mereka, maka saya juga harus cepat memberikan koreksi agar pengetahuan politik yang tertanam dalam diri anak-anak ini memang menjadi benar sejak awal penyusunan fondasi-fondasi dalam diri mereka. Pemilu Pilpres tinggal beberapa hari lagi.

Tentu, tak cuma anak-anak saja, seluruh rakyat Indonesia dari semua lapisan menantikan PESTA DEMOKRASI yang sangat penting ini.

http://koran.seveners.com/wp-content/uploads/2009/04/indonesia-memilih1-225x300.jpg

Mari kita berikan suara dan pilihan politik kita pada Pemilu Pilpres nanti. Dan mari kita juga menghimbau kepada semua pihak untuk menghormati pilihan politik dari anak bangsa yang lain.

Janganlah ada pemaksaan kehendak. Janganlah ada rekayasa atau kejahatan-kejahatan politik yang mengebiri atau menyunat hak suara pasangan Capres - Cawapres yang menjadi pesaingnya.

Janganlah juga ada agen-agen intelijen atau perangkat keamanan -- termasuk juga semua perangkat pemerintahan -- yang patut dapat diduga memancing di air keruh untuk memenangkan pasangan tertentu. Lihatlah carut marutnya situasi pasca Pemilu Pilpre di Iran.

Apa yang mau dibanggakan dari Iran saat ini ?

Negeri mereka luluh lantak, sekitar 7 orang tewas dan ratusan orang terluka. Tetapi tetap saja, sampai detik ini tidak ada solusi politik yang bermartabat di Iran.

http://kpuklaten.com/wp-content/uploads/2009/05/centang.gif

Janganlah juga ada CAPRES tertentu yang ganti gaya dalam kampanye yaitu kebalikan dari iklan politiknya yang selama ini kerap membanggakan diri dan keberhasilan yang menggebu-gebu, sekarang dibuat jadi memelas dan sok terzolimi.

"TETAP SABAR, WALAU DICACI MAKI", demikian isi sebuah spanduk yang kami baca Rabu (24/6/2009) pagi ini di salah satu sudut kota Jakarta.

Weleh weleh, aduh piyung ... macam mana awak tak jadi bingung, yang mencaci dan memaki ente itu siapa, Jek ?

Ndak ada, janganlah berhalusinasi dan berfantasi. Jangan terbiasa menzolimi diri sendiri tetapi melemparkan kesalahan kepada pihak lain yang terus mendapat dukungan rakyat.

Saatnya INDONESIA memilih pemimpin sejati.

Pemimpin yang tidak suka MENZOLIMI. Baik itu MENZOLIMI dirinya sendiri, MENZOLIMI lawan politik, MENZOLIMI jurnalis atau media, MENZOLIMI nilai-nilai kebenaran dan keadilan".

http://www.jkwin4you.com/fotoberita/200905311932521.jpg

Dan disaat seperti ini, kabar terbaru yang hadir ke tengah rakyat Indonesia adalah, dari panggung DEBAT CAWAPRES yang diadakan Selasa (23/6/2009) malam, Cawapres dari Capres Jusuf Kalla yaitu Jenderal Wiranto berhasil menguasai panggung perdebatan itu.

Mantap !

Wiranto menunjukkan kelasnya sebagai Jenderal Berbintang 4 yang sesungguhnya. Bukan apa-apa, ada lho yang sebenarnya bukan Jenderal Berbintang 4 karena sebenarnya bintang 4 yang dimilikinya cuma sebuah pemberian cuma cuma alias gratisan dari Pemerintah Indonesia.

http://www.perspektif.net/i/art/wiranto.jpg http://toghe91.files.wordpress.com/2009/03/65464_deddy_mizwar_thumb_300_225.jpg

Beda, antara Jenderal bintang 4 yang asli, dengan Jenderal bintang 4 yang "tidak asli" karena yang "tidak asli" ada embel-embel KEHORMATAN. Lagi-lagi, yang bisa dikatakan adalah

"Weleh, Weleh, Aduh Piyung ... macam mana awak tak jadi bingung !".

Nagabonar juga pangkatnya Jenderal lho, tapi tentu saja masuk dalam kategori Jenderal bintang 4 yang tidak asli.

Sambil menunggu jadwal penyelenggaraan Pilpres awal bulan Juli mendatang, elok rasanya kalau menghibur hati mendengarkan sebuah iklan politik dari pasangan Capres - Cawapres tertentu yang kini banyak ditayangkan di berbagai media televisi ... "PAK KETIPAK KETIPUNG SUARA GENDANG BERTALUH-TALUH !".

Selamat menentukan pilihan pilihan politik yang sesuai dengan kata hati.

Pilihlah yang diyakini akan membawa Indonesia menjadi lebih baik. Jangan golput, jangan apatis dan jangan sinis. Tentukan saja pilihan. Selama masih ada hidup, maka disitu akan selalu ada harapan.

Ya, harapan untuk membawa dan membuat Indonesia menjadi LEBIH BAIK dalam pengertian yang sesungguhnya. (MS)

LAMPIRAN TULISAN SEBELUMNYA:

KISAH TIKA SANG BALLERINA KECIL YANG BERGAYA POLITIK BANTING SETIR MENYUKAI SBY, WIRANTO, PRABOWO DAN MEGAWATI SOEKARNOPUTRI


http://www.gifs.net/Animation11/Hobbies_and_Entertainment/Dances_Classic/Ballerina_moves.gif

Oleh : MEGA SIMARMATA, Pemimpin Redaksi KATAKAMI

Jakarta 5 APRIL 2009 (KATAKAMI) Ada seorang bocah kecil, Tika namanya. Saat ini ia berusia 8 tahun dan duduk di kelas 3 SD. Anak yang cantik, berambut panjang, lincah dan tubuhnya sangat lentur dalam memainkan gerakan-gerakan tarian ballet karena sudah sejak berusia 3 tahun Tika mempelajari tarian itu. Sehingga dalam usianya yang ke-8, Tika memang bisa disebut “A Liitle Ballerina Dancer”. Ia, tiga bersaudara, dan ketiganya sama-sama bocah yang cantik dan sama-sama juga memperlajari ekskul BALLET.

Dan sejak ia kecil, ia dan kedua adiknya tidak diperkenankan menonton sinetron dewasa. Sehingga yang jadi hiburan mereka hanya saluran televisi “SPACETOON” alias saluran televisi khusus anak-anak.

Atau ikut menyaksikan tayangan berita saat orangtuanya mengikuti perkembangan dari media pertelevisian.

Tika, anak yang sangat cerdas dan hampir tak pernah menangis. Ia jago dalam tarian ballet. Tapi jangan salah, anak cantik ini juga hobi berat bermain FUTSAL. Sehingga tak jarang, kalau pulang sekolah ia membawa bola plastik yang dibelinya dengan uang jajannya sendiri dari pedagang mainan di sekolahnya.

Cuma, sangking cerdasnya maka ada tingkat keisengan dalam diri Tika yang agak besar kadarnya bila sedang berhadapan dengan kedua adiknya.

Tapi jangan harap ada tanda-tanda apapun bila ia sedang melakukan provokasi. Tidak akan ada gerakan tubuh, terutama kedua tangan misalnya, jika Tika mengganggu kedua adiknya.

Biasanya, kedua bola mata sengaja ia besarkan sehingga tampak melotot atau bibirnya yang mungil sengaja dimajukan untuk mengejek. Dan semua itu bisa dilakukannya dengan sangat cepat, sehingga kalau ada yang menoleh ke arah Tika maka yang tampak adalah Tika sedang duduk manis “tanpa dosa”.

Tapi kalau sudah begitu, tunggu saja dalam beberapa detik karena kedua adiknya pasti akan berteriak marah atau menangis jengkel karena digoda oleh sang kakak.

“Tika, jangan nakal sama adik, Nak !” kata sang mama, setiap kali kejadian yang “itu-itu juga” berulang.

“Aku salah apa, Mama ? Aku kan gak ngapa-ngapain” jawab Tika dengan suara lembut dengan gaya duduk yang manis seakan benar-benar tak bersalah.

Sang Mama sudah hapal dengan keisengan anak yang manis ini. Sehingga di hari-hari selanjutnya, yang harus sangat cepat dilihat oleh mata sang mama adalah memeriksa bagaimana mimik wajah Tika bila sedang bersama adik-adiknya.

Dan akhirnya, Tika jadi tersenyum malu karena selalu kepergok oleh bunda tercinta saat matanya akan melotot atau mulutnya disengaja “dimonyongin” untuk meledek sang adik. Dan ia tak pernah tertawa keras atau terbahak-bahak. Tika, cirinya hanya tersenyum simpul saja. Beda dengan Sang Mama dan kedua anaknya yang masih kecil-kecil karena ketiganya bisa tertawa ngakak kalau ada yang sangat lucu.

Presiden SBY memandangi cucu semata wayangnya AIRA YUDHOYONO (Foto Detik)SBY, Wiranto, Megawati & Prabowo

Hal yang tak terduga dari bocah berumur 8 tahun ini adalah gaya politik banting setir yang diperlihatkannya selama beberapa bulan terakhir.

Pada suatu kesempatan misalnya, Tika mendekati sang Mama. “Mama, kalau misalnya aku boleh ikut Pemilu, aku mau pilih Partai Demokrat dan Partai Gerindra” kata Tika kepada ibunya.

“Oh ya, kenapa memangnya, Nak ? tanya sang Mama.

Sang Mama, memang membiasakan agar anak-anaknya bisa bebas, berani dan sangat cerdas menyampaikan pendapat mereka dalam hal apa saja. Tetapi jika ada yang perlu dijawab atau diarahkan, barulah orangtua berbicara.

“Iklannya Pak SBY bagus, Mama. Aku udah bisa niru lambang Partai Demokrat pakai tanganku (Tika menirukan gaya Andi Malarangeng membuat lambang Partai Demokrat dengan kedua tangan). Iklannya Prabowo juga bagus, Mama. Katanya Prabowo, nanti perekonomian kita akan bagus kalau Prabowo jadi Presiden” begitu kata Tika “menceramahi” sang ibu.

Sang Ibu manggut-manggut.

Memang, sejak awal ia mengamati iklan politik Prabowo Subianto.

Bahkan Tika bisa menghapal kalimat demi kalimat. Sementara Sang Mama, cuma hapal kalimat pembuka saja dari Iklan Prabowo Subianto di berbagai media pertelevisian yaitu, “Saya Prabowo Subianto …”.

CAPRES GERIDNRA, Prabowo SubiantoPrabowo Subianto saat bertugas semasa DANJEN KOPASSUS

Bulan Januari sampai Februari 2009, Tika bersemangat melihat spanduk atau poster Partai Demokrat dan Partai Gerindra yang terpasang dimana-mana.

Pada suatu hari, ia pernah tampak murung sepulang dari sekolah. Dan seperti biasa, ia mengajak ibunya untuk “berdiskusi” soal politik.

“Mama, kata orang-orang, Prabowo itu tukang culik anak-anak ?” tanya Tika.

Waduh, sang ibu tak bisa menyembunyikan keterkejutan karena penyebaran informasi yang sembarangan seperti itu kepada masyarakat (apalagi ke kalangan anak-anak), patut dapat diduga hal semacam itu merupakan BLACK CAMPAIGN atau kampanye hitam. Tetapi saat itu, dengan tenang sang Ibu menjawab pertanyaan Tika.

“Bukan Nak, Pak Prabowo Subianto itu tentara. TNI. Kerjanya bagus, perbuatannya baik sewaktu masih jadi tentara. Dulu, jabatannya pernah jadi Komandan Kopassus. Terus, pernah jadi Panglima Kostrad. Tidak benar kalau dibilang penculik anak-anak. Yang bicara seperti itu, nanti bisa ditangkap karena mencemarkan nama baik orang. Ngerti kan, Nak ? Jadi, Tika tidak salah kalau Tika suka lihat iklannya Prabowo Subianto” jawab Sang Mama.

Tika tampak puas dengan jawaban itu. Dan tidak pernah lagi terlihat murung seputar isu negatif dari tokoh dan partai yang iklan politiknya disukai Tika.

Iklan politik Megawati Soekarnoputri tentang sembako murahMegawati Soekarnoputri & putrinya, PUAN MAHARANI

Dan beberapa hari lalu, Tika mengajak lagi sang ibu untuk berdiskusi politik seperti biasanya.

“Mama, kali ini aku sudah punya pilihan lain. Kalau aku bisa ikut Pemilu sekarang, aku akan pilih PDI Perjuangan dan Partai Hanura. Kata iklannya PDI Perjuangan, nanti kalau Megawati terpilih, harga sembako bisa murah. Terus masalah kesehatan dan pendidikan juga diperhatikan. Aku juga mau pilih Hanura, sekarang iklannya banyak dimana-mana, Mama. Nama Ketua Umumnya Wiranto. Mama harus lihat iklannya. Kata Wiranto, kita semua harus mendengarkan hati nurani kalau mau melakukan apapun juga,” kata Tika dengan bersemangat.

Sang Ibu manggut-manggut. Tetapi tak lama kemudian, ia melanjutkan omongannya dengan menyorroti parpol lain. Sebab ada yang membuatnya penasaran.

Ketua Umum DPP PAN Soetrisno BachirPartai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan nomor urut 24

Kalau PAN, Partai Amanat Nasional, Ketua Umumnya siapa Mama ?” tanya Tika.

“Oh, kalau PAN, nama Ketua Umumnya Soetrisno Bachir. Iklannya kan banyak Nak. Ingat gak, yang iklannya begini … Hidup adalah perbuatan” jawab Sang Mama.

Kali ini, giliran Tika yang manggut-manggut.

“Terus, kalau yang partainya berlambang hijau … P … apa itu namnya ? Kepanjangan nama Partainya apa Mama ?” tanya Tika lagi.

“P3, PPP, kepanjangannya Partai Persatuan Pembangunan” jawab sang ibu.

Tika tampak serius mendengarkan jawaban demi jawaban dari sang Ibu.

Dan Sang Ibu memang harus selalu siap dengan seribu satu macam kejutan dari anak sulungnya ini. Sebab Tika, bisa aktif bertanya dan entah darimana ia mendapatkan informasi-informasi itu. Ia pengamat yang baik. Iklan dari para CALEG misalnya, ia baca saat melintas bila hendak ke sekolah atau pulang dari sekolah.

Tika pernah sangat gusar ketika ia tahu iklan CALEG dari PARTAI PATRIOT misalnya (Presada Ginting), disingkirkan oleh CALEG lain yang memasang iklannya di tempat iklan yang lebih dulu ditempati CALEG sebelumnya. Sang Mama malah tidak memperhatikan sampai sedetail itu.

H. Japto S. Soerjosoemarno, SHYedidiah Soerjosoemarno

Ia tanyakan, siapa nama Ketua Umum PARTAI PATRIOT.

Sang Mama menjawab kepada anak sulungnya ini, “Namanya YAPTO SOERJOSOEMARNO, dulu Pak Yapto ini pimpinannya organisasi pemuda yang namanya Pemuda Pancasila” jawab Sang Mama.

Dan Tika bisa terus bertanya, kalau misalnya ia belum puas. Ia tanya, mengapa YAPTO tidak mencalonkan diri juga jadi CAPRES karena biasanya Ketua Umum Partai Politik rata-rata maju sebagai CAPRES. Kalau sudah sesulit itu pertanyaannya, maka Sang Mama memerlukan waktu beberapa detik lebih lama untuk mencari jawaban yang “diplomatis”.

“Barangkali karena memang Pak YAPTO tidak punya ambisi atau rencana untuk jadi CAPRES. Tapi kalau Tika perhatikan, anaknya Pak YAPTO ada yang jadi CALEG. Iklannya kan ada di dekat rumah kita, namanya YEDIDIAH Soerjosoermarno” jawab Sang Mama secara bijak.

Tika, bocah kecil yang bergaya politik ala banting setir kesana kemari itu memang berlangganan sebuah media anak-anak yang memuat banyak berita positif mengenai kehidupan di sekeliling kita.Tabloid BERANI namanya.

Ya, sama saja dengan koran yang dibaca oleh orang dewasa. Barangkali yang membedakan adalah cara pengemasan dan penyampaian beritanya.

Sebab, Tika bisa bercerita panjang lebar kepada sang ibu mengenai Tragedi Situ Gintung, yang terjadi di kawasan Cirendeu baru-baru ini.

Dan soal minat politik Tika, hal terbaru yang mengagetkan sang Ibu saat Tika datang dengan “rumpian politik” yang terbaru.

“Waduh Mama, gawat ini. Aku kan sekarang suka sama PDI Perjuangan. Tapi aku dengar, berdasarkan polling partai yang diperkirakan terbesar suaranya adalah PKS. Terus disusul Partai Demokrat. Habis itu baru PDI Perjuangan” kata Tika kepada sang Ibu.

Sang Ibu berusaha untuk “serius” dan sekuat mungkin menahan diri untuk tidak tertawa karena itu akan membuat sang anak tersinggung. Sebab Tika terlihat serius sekali dengan isu terbaru ini.

“Polling itu namanya jajak pendapat, yang menjawab adalah orang tertentu dan jumlahnya tidak sebesar rakyat Indonesia. Dan kadang-kadang, polling itu bisa dibeli berdasarkan kepentingan dari si pemesan. Tapi dalam hal ini, kalau tadi Tika sebut nama PKS, partai yang namanya PKS memang bagus juga, Nak. Mereka punya massa yang banyak. Jadi tidak mungkin PKS membeli polling. Ya, nanti kita lihat di Pemilu Legislatif ya. Partai politik mana yang mendapat suara terbanyak” kata Sang Mama.

Tika tampak diam tapi tetap menyimak jawaban demi jawaban dari sang ibu.

“Jadi, Tika sekarang pilih partai yang mana ?” tanya Sang Mama.

“Aku tetap pilih PDI Perjuangan, Mama. Soalnya aku mau sembako yang murah. Apa-apa sekarang ini kan memang mahal” jawab Tika dengan polos.

Sang Mama tidak berusaha untuk mendoktrin agar si anak menyukai yang ini atau yang itu, lalu mewajibkan untuk membenci yang ini dan yang itu. Tika masih terlalu kecil untuk mendapatkan doktrin politik yang terkooptasi dengan kepentingan atau pilihan politik orang dewasa.

Buat Tika, pernyataan demi pernyataan dari para Ketua Umum Parpol atau Para CAPRES 2009 adalah sesuatu yang wajib untuk disimak. Lalu, Tika membandingkan siapa kira-kira yang “janji politiknya” lebih baik dan akan membawa Indonesia ke arah yang jauh lebih sejahtera.

Itulah tadi sepotong cerita tentang minat dan gaya politik Tika yang memang sangat banting setir kesana dan kemari. Ia hanyalah anak kecil yang secara tulus, polos dan sangat sederhana telah mencoba untuk belajar politik.

Peran orangtua dalam memberikan arahan dan pengetahuan tambahan dari yang didapat si anak dari sekolahnya, memang sangat penting.

Anak mendapat banyak informasi dari dunia sekelilingnya, tanpa bisa dicegah oleh orangtua.

Mau kaya atau miskin, anak-anak tetaplah anak-anak yang harus dijaga dari segala distorsi informasi. Biarlah dengan kerangka pemikiran yang masih kekanak-kanakan, mereka tumbuh dan berkembang menjadi anak Indonesia yang sehat dan cerdas.

Semua parpol dan CAPRES 2009 ini memang harus sangat berhati-hati dalam menyampaikan janji-janji politik mereka. Begitu banyak, anak bangsa Indonesia yang mendengarkan janji-janji politik itu.

Tidak cuma anak seusia Tika, tetapi seluruh rakyat Indonesia yang memang menyandang predikat sebagai anak bangsa.

Dalam hitungan jam dan hanya tinggal beberapa hari lagi, Indonesia akan menggelar agenda politik penting yang pertama di tahun 2009 ini yaitu PEMILU LEGISLATIF tanggal 9 April 2009.

Selamat berpesta demokrasi untuk kita semua, anak bangsa Indonesia. Berikan suara anda. Dan mari kita berikan suara dan pilihan politik kita untuk menjadikan Indonesia bisa tetap melanjutkan perjalanannya ke depan secara lebih demokratis.

Seperti slogan yang disampaikan pihak MABES POLRI lewat spanduk-spanduk di sejumlah tempat, “PILIHAN BOLEH BERBEDA, TETAPI PEMILU HARUS TERTIB DAN DAMAI”.

POLRI dengan dibantu oleh TNI bertugas mengamankan PEMILU 2009 agar berjalan tertib dan damaiPengamanan PEMILU 2009 oleh POLRI

Janganlah ada pihak manapun yang terpancing atau berinisiatif melakukan sesuatu yang berdampak buruk bagi INDONESIA.

Mata dunia internasional akan mengarah kepada bangsa INDONESIA saat pelaksanaan Pemilu Legislatif 9 April mendatang. Dan memang menjadi tugas POLRI, dibantu TNI, untuk mengamankan pelaksanaan Pemilu Legislatif tanggal 9 April mendatang agar terlaksana secara baik dan suskes.

Kita jaga bersama-sama agar semua tahapan pelaksanaan Pemilu Legislatif itu berjalan secara baik.

Dan yang terpenting, seperti yang disampaikan oleh pesan MABES POLRI tadi, Pemilu harus tertib dan damai.

Siap menang, siap kalah. Itulah prinsip yang harus dipegang dan dilaksanakan oleh semua parpol dan caleg-calegnya.

TikaIlustrasi gambar TIGA BALERINA

Dan kembali ke soal Tika, bocah kecil yang punya minat tinggi dalam masalah politik. Dia adalah anak saya. Anak yang lugu tetapi memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi.

Untunglah Tika belum saatnya memilih pada tanggal 9 April nanti. Sebab, kalau misalnya ia boleh memilih maka saya yakin kertas suara yang pertama kali dinyatakan tidak sah adalah kertas suara yang dicentang atau dicontreng oleh Tika. Sebab, ia bisa saja akan mencontreng atau mencentangkan di banyak parpol yang ia sukai iklan politiknya selama ini. Dari mulai Partai Demokrat, Partai Gerindra, PDI Perjuangan, Partai Hanura dan belakangan karena mendengar nama Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Tika juga jadi mengamati parpol yang satu ini.

TikaSalam dari TIKA, untuk anda yang menjadi CAPRES, Ketua Umum dan kader dari semua partai yang disukai oleh anak yang lugu ini. Juga kepada semua PARPOL yang menjadi peserta PEMILU LEGISLATIF 2009 dan para kandidat CAPRES lainnya yang akan maju dalam pertarungan PILPRES 2009.

Bukan maksud Tika untuk melakukan diskriminasi karena dengan keluguannya ia cuma menyoroti sejumlah kecil partai politik. Ia hanyalah bocah kecil yang masih belum memahami perpolitikan secara utuh dan menyeluruh.

Sekali lagi, selamat berpesta demokrasi untuk kita semua, anak bansgsa INDONESIA. Berikan suara anda dan pilihkan yang memang anda yakini akan membawa INDONESIA ke arah yang jauh lebih baik dan sejahtera.

(MS)

Foto-Foto Presiden Obama Dan Kedua Putrinya, MALIA & SASHA OBAMA, "Because Your Daddy Loves You !"

http://images.nymag.com/daily/intel/20081111_obamas_250x375.jpghttp://cm1.theinsider.com/media/0/127/93/400_sobama_mobama_bobama_shonda_INS_081112_83628245.0.0.0x0.400x400.jpeg

http://www1.pictures.gi.zimbio.com/Barack+Obama+Sworn+44th+President+United+States+31ODG_U96EYl.jpg

http://images.smh.com.au/2009/02/15/383530/obama1-420x0.jpg

http://media.washingtonpost.com/wp-dyn/content//photo/2008/12/30/PH2008123002973.jpg

http://farm4.static.flickr.com/3541/3484832496_2eb69fc610.jpghttp://www.wowowow.com/files/imagecache/300x/2009_0327_Getty_Sasha_Obama.jpg

http://cm1.theinsider.com/media/0/224/28/maliafun.0.0.0x0.400x553.jpeg http://2.bp.blogspot.com/_4i4dKm39nK4/SEcHQNNQGuI/AAAAAAAAA0M/ekPeC4qIDc0/s400/Sasha2.jpg

http://i37.tinypic.com/58ch1.jpg

http://www.dancewithshadows.com/celebrity/wp-content/uploads/2008/11/sasha-obama-barack.jpghttp://i.dailymail.co.uk/i/pix/2008/11/12/article-0-02626BBC000005DC-271_224x284.jpg

http://obama.3cdn.net/1babb0c223fb4830c9_5pwkmvj7g.jpghttp://www.babble.com/CS/blogs/strollerderby/2009/03/sasha_obama.jpg

http://cm1.theinsider.com/media/0/358/27/sasha-and-friend.0.0.0x0.400x715.jpeghttp://www3.pictures.gi.zimbio.com/President+Obama+Family+Depart+White+House+grZlxv4Ofj9l.jpg

Tulisan Presiden Obama Pada Perayaan “Father’s Day”, : WE NEED FATHERS TO STEP UP !




By : BARACK HUSSEIN OBAMA

Dimuat juga di http://www.katakamikatakami.vox.com , http://www.blogkatakaminews.blogspot.com dan http://www.katakaminews.wordpress.com


As the father of two young girls who have shown such poise, humor, and patience in the unconventional life into which they have been thrust, I mark this Father’s Day—our first in the White House—with a deep sense of gratitude. One of the greatest benefits of being President is that I now live right above the office. I see my girls off to school nearly every morning and have dinner with them nearly every night. It is a welcome change after so many years out on the campaign trail and commuting between Chicago and Capitol Hill.

But I observe this Father’s Day not just as a father grateful to be present in my daughters’ lives but also as a son who grew up without a father in my own life. My father left my family when I was 2 years old, and I knew him mainly from the letters he wrote and the stories my family told. And while I was lucky to have two wonderful grandparents who poured everything they had into helping my mother raise my sister and me, I still felt the weight of his absence throughout my childhood.

As an adult, working as a community organizer and later as a legislator, I would often walk through the streets of Chicago’s South Side and see boys marked by that same absence—boys without supervision or direction or anyone to help them as they struggled to grow into men. I identified with their frustration and disengagement—with their sense of having been let down.

In many ways, I came to understand the importance of fatherhood through its absence—both in my life and in the lives of others. I came to understand that the hole a man leaves when he abandons his responsibility to his children is one that no government can fill. We can do everything possible to provide good jobs and good schools and safe streets for our kids, but it will never be enough to fully make up the difference.

That is why we need fathers to step up, to realize that their job does not end at conception; that what makes you a man is not the ability to have a child but the courage to raise one.

As fathers, we need to be involved in our children’s lives not just when it’s convenient or easy, and not just when they’re doing well—but when it’s difficult and thankless, and they’re struggling. That is when they need us most.

And it’s not enough to just be physically present. Too often, especially during tough economic times like these, we are emotionally absent: distracted, consumed by what’s happening in our own lives, worried about keeping our jobs and paying our bills, unsure if we’ll be able to give our kids the same opportunities we had.

Our children can tell. They know when we’re not fully there. And that disengagement sends a clear message—whether we mean it or not—about where among our priorities they fall.

So we need to step out of our own heads and tune in. We need to turn off the television and start talking with our kids, and listening to them, and understanding what’s going on in their lives.

We need to set limits and expectations. We need to replace that video game with a book and make sure that homework gets done. We need to say to our daughters, Don’t ever let images on TV tell you what you are worth, because I expect you to dream without limit and reach for your goals. We need to tell our sons, Those songs on the radio may glorify violence, but in our house, we find glory in achievement, self-respect, and hard work.

We need to realize that we are our children’s first and best teachers. When we are selfish or inconsiderate, when we mistreat our wives or girlfriends, when we cut corners or fail to control our tempers, our children learn from that—and it’s no surprise when we see those behaviors in our schools or on our streets.

But it also works the other way around. When we work hard, treat others with respect, spend within our means, and contribute to our communities, those are the lessons our children learn. And that is what so many fathers are doing every day—coaching soccer and Little League, going to those school assemblies and parent-teacher conferences, scrimping and saving and working that extra shift so their kids can go to college. They are fulfilling their most fundamental duty as fathers: to show their children, by example, the kind of people they want them to become.

It is rarely easy. There are plenty of days of struggle and heartache when, despite our best efforts, we fail to live up to our responsibilities. I know I have been an imperfect father. I know I have made mistakes. I have lost count of all the times, over the years, when the demands of work have taken me from the duties of fatherhood. There were many days out on the campaign trail when I felt like my family was a million miles away, and I knew I was missing moments of my daughters’ lives that I’d never get back. It is a loss I will never fully accept.

But on this Father’s Day, I think back to the day I drove Michelle and a newborn Malia home from the hospital nearly 11 years ago—crawling along, miles under the speed limit, feeling the weight of my daughter’s future resting in my hands. I think about the pledge I made to her that day: that I would give her what I never had—that if I could be anything in life, I would be a good father. I knew that day that my own life wouldn’t count for much unless she had every opportunity in hers. And I knew I had an obligation, as we all do, to help create those opportunities and leave a better world for her and all our children.

On this Father’s Day, I am recommitting myself to that work, to those duties that all parents share: to build a foundation for our children’s dreams, to give them the love and support they need to fulfill them, and to stick with them the whole way through, no matter what doubts we may feel or difficulties we may face. That is my prayer for all of us on this Father’s Day, and that is my hope for this nation in the months and years ahead.

http://blackcelebritykids.files.wordpress.com/2008/05/may4thindianaobama.jpg


LAMPIRAN (SURAT PRESIDEN OBAMA KEPADA KEDUA PUTERINYA, MALIA & SASHA) :



Dear Malia and Sasha,

I know that you’ve both had a lot of fun these last two years on the campaign trail, going to picnics and parades and state fairs, eating all sorts of junk food your mother and I probably shouldn’t have let you have. But I also know that it hasn’t always been easy for you and Mom, and that as excited as you both are about that new puppy, it doesn’t make up for all the time we’ve been apart. I know how much I’ve missed these past two years, and today I want to tell you a little more about why I decided to take our family on this journey.

When I was a young man, I thought life was all about me—about how I’d make my way in the world, become successful, and get the things I want. But then the two of you came into my world with all your curiosity and mischief and those smiles that never fail to fill my heart and light up my day. And suddenly, all my big plans for myself didn’t seem so important anymore. I soon found that the greatest joy in my life was the joy I saw in yours. And I realized that my own life wouldn’t count for much unless I was able to ensure that you had every opportunity for happiness and fulfillment in yours. In the end, girls, that’s why I ran for President: because of what I want for you and for every child in this nation.

http://blindie.com/wp-content/uploads/2008/11/malia_sasha_obama-326x400.jpg

I want all our children to go to schools worthy of their potential—schools that challenge them, inspire them, and instill in them a sense of wonder about the world around them. I want them to have the chance to go to college—even if their parents aren’t rich. And I want them to get good jobs: jobs that pay well and give them benefits like health care, jobs that let them spend time with their own kids and retire with dignity.

I want us to push the boundaries of discovery so that you’ll live to see new technologies and inventions that improve our lives and make our planet cleaner and safer. And I want us to push our own human boundaries to reach beyond the divides of race and region, gender and religion that keep us from seeing the best in each other.

Sometimes we have to send our young men and women into war and other dangerous situations to protect our country—but when we do, I want to make sure that it is only for a very good reason, that we try our best to settle our differences with others peacefully, and that we do everything possible to keep our servicemen and women safe. And I want every child to understand that the blessings these brave Americans fight for are not free—that with the great privilege of being a citizen of this nation comes great responsibility.

http://celebrityworld.today.com/files/2008/11/sasha-and-malia-obama.jpg

That was the lesson your grandmother tried to teach me when I was your age, reading me the opening lines of the Declaration of Independence and telling me about the men and women who marched for equality because they believed those words put to paper two centuries ago should mean something.

She helped me understand that America is great not because it is perfect but because it can always be made better—and that the unfinished work of perfecting our union falls to each of us. It’s a charge we pass on to our children, coming closer with each new generation to what we know America should be.

I hope both of you will take up that work, righting the wrongs that you see and working to give others the chances you’ve had. Not just because you have an obligation to give something back to this country that has given our family so much—although you do have that obligation. But because you have an obligation to yourself. Because it is only when you hitch your wagon to something larger than yourself that you will realize your true potential.

http://images.watoday.com.au/2009/06/05/557220/article400_obama_daughters-420x0.jpg

These are the things I want for you—to grow up in a world with no limits on your dreams and no achievements beyond your reach, and to grow into compassionate, committed women who will help build that world. And I want every child to have the same chances to learn and dream and grow and thrive that you girls have. That’s why I’ve taken our family on this great adventure.

I am so proud of both of you. I love you more than you can ever know. And I am grateful every day for your patience, poise, grace, and humor as we prepare to start our new life together in the White House.

Love,
Dad
http://assets.nydailynews.com/img/2009/04/30/gal_obama_06.jpg

Catatan Kecil Pada Perayaan “Father’s Day”, My Daddy Is My Hero !


Kisruh Politik Berdarah Terjadi Iran, Tapi Anehnya Ada Segelintir Politisi AS Ada Yang Lancang, Sok Hebat Tapi Malah Jadi Salah Tuding Ke Muka OBAMA

Jakarta 19/6/2009 (KATAKAMI) Ada saja yang dijadikan kontroversi oleh pihak yang telah berlalu kekuasaannya dan juga yang jelas-jelas KALAH MUTLAK pada pertarungan politik di AMERIKA SERIKAT. Baik itu rezim dari duet yang dicaci-maki oleh mayoritas warga dunia karena kejahatan kemanusiaannya yaitu Bush - Cheney, atau pihak John McCain yang terbukti "TAK BERKUKU" dalam memenangkan Pilpres AS bulan Novvember 2008 lalu.

Dan yang dijadikan target sasaran selalu Barack Hussein Obama !

Ada yang dianggap salah, lemah, berlebihan atau berkekurangan. Seakan-akan, pihak pengkritik yang sudah "BERLALU MASANYA" ini, menjadi figur yang paling sempurna dibandingkan seluruh rakyat Amerika yang ada di muka bumi ini. Ada sebuah syndrome yang sangat berbahaya bagi kesehatan jasmani dan rohani -- dan jelas ini harus diwaspadai -- yaitu POST POWER SYNDROME. Bagi siapapun yang kekuasaannya telah berlalu atau ambisinya untuk berkuasa tak kesampaian, patut mewaspadai serangan syndrome yang sangat memprihatinkan itu.

Barack Hussein Obama, mendadak dituding-tuding tak jelas sikapnya atas hasil dan situasi terakhir di IRAN. Lho, apa urusannya Pilpres di Iran dan kisruhnya situsasi keamanan di Iran, pasca kemenangan Ahmadinejad ? Tidak ada urusannya dan tidak kaitannya semua perkembangan taktis itu terhadap diri Barack Hussein Obama. Sebagai seorang pemimpin dunia, politisi dan negarawan sekaliber Baraco Hussein Obama tentu akan menghormati nilai-nilai demokrasi di semua negara yang ada di muka bumi ini.

Tidak lantas karena ia sekarang menjadi PRESIDEN AS ke-44 (yang notabene BERHASIL menyingkirkan John McCain) dari panggung persaingan politik yang alot tahun 2008 lalu), maka Obama bisa seenaknya intervensi dan COMEL merecoki urusan dalam negeri negara lain.

No way !

Percayalah, Barack Hussein Obama tidak akan pernah mau lancang dan kurang kerjaan merecoki urusan dalam negeri negara lain -- seakan-akan, tugas utamanya sebagai PRESIDEN AMERIKA SERIKAT sangat enteng sehingga ia sengaja mencari-cari "pekerjaan" lain di negeri tetangga manapun di muka bumi ini.

Bush, Cheney atau McCain, serta para politisi pendukung mereka yang agenda utama partainya adalah mau menyodok kredibilitas dan wibawa pemerintahan Obama lewat "beraneka-ragam" isu yang diramu dengan bermacam-macam bumbu, sebaiknya tahu diri dan tahu malu sedikitlah.

Bush, Cheney atau McCain, serta para politisi pendukung mereka yang terbiasa merecoki negara lain -- bahkan Bush dan Cheney yang sok hebat melakukan INVASI di sejumlah negara atas nama PERANG MELAWAN TEROR -- harus segera menyadari bahwa kelakukan-kelakuan yang buas bagai binatang serigala sehingga menjungkir-balikkan nilai-nilai kemanusiaan, hukum dan HAM di muka bumi ini, sudah tak laku lagi untuk terus dipertahankan.

Situasi terakhir yang di Iran, adalah situasi logis yang bisa saja terjadi dimanapun juga, sebagai dampak dari percaturan politik yang carut marut antar elite politik di negara tersebut. Disinilah dibutuhkan kelenturan sikap dari Ahmadinejad bahwa kemenangan tak harus dijaga dengan "TANGAN BESI"

Situasi terakhir di Iran, adalah situasi logis yang bisa saja terjadi di manapun juga, sebagai dampak dari kekecewaan pihak yang kalah dan TAK SIAP KALAH dalam percaturan politik yang carut marut antar elite politik di negara tersebut.

Mari kita sejenak mengingat situasi menjelang Pilpres di Iran beberap waktu lalu. Ahmadinejad dan rival utamanya yaitu Mousavi "jualan kecap kampanye" dengan topik menggempur ISRAEL sampai luluh lantak.

Coba diingat kembali, bagaimana garang dan lantangnya mereka menegaskan bahwa bila mereka yang terpilih maka ISRAEL akan dihancurkan sampai titik darah penghabisan.

Luar biasa !

Ahmadinejad dan Mousavi sama-sama lupa bahwa jangankan ISRAEL, negara mereka sendiripun yaitu IRAN akan mudah mencapai dan tiba pada titik kehancuran kalau antar elite politik di sana tidak punya satu kesamaan yang fundamental yaitu : SIAP MENANG DAN SIAP KALAH.

Sekali lagi, dalam percaturan politik di negara manapun maka semua kandidat harus secara kesatria menyadari dan melaksanakan asas yang paling mutlak diberlakukan dalam diri mereka masing-masing yaitu : SIAP MENANG DAN SIAP KALAH.

Jangan jauh-jauh bermimpi atau berencana menyerang dan menggempur ISRAEL sampai rontok rata dengan tanah. Bagaimana mereka mau menggempur Israel, antar elite politik didalam negeri mereka sendiri saja, tak bisa akur !

Kasihan sekali, seluruh dunia menyaksikan cakar-cakaran dan demonstrasi yang menelan korban jiwa, hanya karena tidak punya itikat baik di masing-masing kubu yaitu SIAP MENANG DAN SIAP KALAH.

Aparat keamanan di Iran, tentu harus tunduk sepenuhnya kepada perintah dari Yang Mulia Presiden Ahmadinejad. Selain karena saat ini kekuasaan yang sah secara konstitusi ada di tangan Ahmadinejad, ternyata pemenang Pemilu Pilpres adalah Ahmadinejad juga.

Jika memang ada kecurangan disana-sini, pihak yang kalah atau pihak yang merasa dirugikan tak perlu mati-matian mengorbankan nyawa lewat serangkaian aksi unjuk rasa yang berdarah-darah. Tempuh saja proses hukum yang berlaku di negara itu !

Dan sekarang kalau pertanyaannya di balik, hak apa yang dimiliki oleh Barack Hussein Obama untuk memerintahkan Ahmadinejad tidak menangkapi demonstran atau memerintahkan Ahmadinejad untuk membatalkan kemenangannya dalam Pemilu Pilpres agar rival utamanya yang keluar sebagai pemenang ?

Barack Hussein Obama, tentu sangat tahu menempatkan dirinya.

Barack Hussein Obama, tentu sangat menghormati urusan dalam negeri dari negara lain.

Barack Hussein Obama, tentu tidak ingin menjerumuskan bangsa dan negaranya menjadi pihak yang lancang untuk mencampuri urusan dalam negeri negara lain.

Apakah yang diharapkan oleh sebagian pihak, Barack Hussein Obama mengumumkan bahwa AMERIKA SERIKAT akan menginvasi Iran atas nama demokrasi dan membela hak-hak para demontran pendukung Mousavi ?

Kalau ada yang berharap seperti itu didalam hati atau angan-angannya, maka kalimat yang paling tepat untuk disampaikan -- seperti istilah anak gaul di Indonesia ini -- GILA KALI LU !

Apa yang dilakukan oleh AMERIKA SERIKAT, khususnya oleh Presiden Barack Hussein Obama dalam menanggapi situasi perpolitikan di Iran, sudah sangat tepat dan memang itulah yang semestinya dilakukan.

Bukan Barack Hussein Obama yang harus didorong-dorong merecoki atau mencampuri urusan dalam negeri IRAN. Jika memang dalam pandangan dunia, sudah sangat parah situasi di Iran, maka yang harus turun tangan adalah PERSERIKATAN BANGSA BANGSA (PBB).

Sekjen PBB Ban Ki Moon harus cepat mengambil tindakan yang sesuai dengan prosedur atau ketentuan yang berlaku secara universal.

Bagi semua negara dan warga dunia yang menghormati nilai-nilai demokrasi maka yang justru harus disampaikan kepada Barack Hussein Obama adalah respek dan hormat yang tinggi.

Terimakasih Yang Mulia Presiden Obama, sedikitpun anda tidak menunjukkan hawa nafsu atau ambisi yang setara dengan kelakuan MONSTER dalam tatanan internasional.

Obama jsutru membuat dan mengangkat martabat AMERIKA SERIKAT menjadi lebih mengagumkan, karena proses demokratisasi di negara lain di hormati dan dibiarkan berjalan pada rel yang sesungguhnya.

Bukan seperti sepasang pemimpin yang barangkali sekarang menderita POST POWER SYNDROME yaitu Bush dan Cheney. Dan bukan juga seperti seorang "calon pemimpin" yang KEOK alias KALAH TELAK pada pertarungan Pilpres di AS yaitu John McCain. Kecian deh lo !

Ada satu kalimat bijak yang perlu diingatkan kepada mereka-mereka yang lancang menyalahkan Obama yang tidak mau merecoki Iran yaitu :

"MULUTMU ADALAH HARIMAUMU !

Cobalah Bush dan Cheney mematut diri alias bercermin di depan kaca. Sudah cukup hebatkah, sudah cukup berhasilkah, dan apakah memang tidak sedikitpun kesalahan atau pelanggaran di bidang hukum, HAM dan nilai-nilai kemanusiaan -- semasa menjabat dulu ???

Kalau tidak salah ingat, banyak sekali desakan agar kedua pemimpin ini ditendang saja ke muka peradilan yaitu menghadapi "IMPEACHMENT"

Mau diadili ?

Dan untuk pihak yang kalah. Ya, tahu diri sajalah.

Fakta membuktikan, anda memang tidak hebat-hebat amat, Tuan Mc Cain. Mau diapakan lagi ? Urusan dalam negeri orang lain, mana bisa dicampuri. Memangnya, Iran punya nenek moyang anda ?

Jadi ? Tutup mulut anda semua, hai tuan-tuan yang tidak bisa menghormati nilai-nilai demokrasi di negara lain ! Shut up !

Lalu Presiden Ahmadinejad, juga harus lebih bijaksana serta menahan diri dalam mengambil semua kebijakan di bidang keamanan nasional negaranya. Kemenangan sudah di tangan, apalagi yang harus dikuatirkan ?

Betapa malunya Iran di kancah internasional. Selama ini sok jago dalam urusan nuklir, tetapi mengurus urusan politik dan keamanan di negaranya saja, tak bisa. Jangan membunuhi rakyat. Demokrasi, tidak harus dan tidak membutuhkan "TUMBAL NYAWA !". Hanya orang tak beragama, sesat dan sangat kesetanan yang tega-teganya menempuh cara-cara "TUMBAL NYAWA" untuk urusan proses demokratisasi di negaranya.

(MS)

Mawar Surga Yang Semasa Hidupnya Begitu Banyak Berbuat Kebaikan Mengagumkan Itu Bernama Stanley Ann Dunham. Terimakasih Ibu ANN. TERIMAKASIH CINTA !

Ann Dunham by katakamikatakami.

OLEH : Mega Simarmata, Pemimpin Redaksi

Dimuat Juga Di BLOG KATAKAMI : WWW.BLOGKATAKAMINEWS.BLOGSPOT.COM


Jakarta 18/6/2009 (KATAKAMI) Sebuah kalimat yang legendaris akan mengawali tulisan mengenai ANN DUNHAM, seorang perempuan yang dikaruniai kecerdasan yang luar biasa dan semasa hidupnya ia juga secara murah hati mau "mencintai" dengan sangat luar biasa terhadap kehidupan di Indonesia.
"KASIH IBU SEPANJANG MASA".
Sahabat saya, Teguh Santosa, Wartawan Senior Rakyat Merdeka yang mendapatkan kesempatan bersekolah di Hawaii, lebih dulu menulis tentang Almarhumah Ann Dunham. Dan saya berbangga hati atas sahabat saya ini karena dalam kesibukannya menimba ilmu, ia tetap produktif menulis tentang banyak hal di "tanah perantauannya".

Saya ajak anda semua, untuk sejenak membaca sekelumit kisah hidup Almarhumah ANN DUNHAM dari tulisan Teguh Santosa (www.teguhtimur.com) :

http://theobamafamily.com/obamaFamilyphotos/ObamasMother.jpg

Stanley Ann Dunham lahir di Forth Leavenworth, Kansas, 29 November 1942. Ia adalah anak tunggal pasangan Stanley Amour Dunham dan Madelyn Lee Payne.

Nama Stanley diberikan ayahnya yang begitu menginginkan anak laki-laki.

Sepanjang Perang Dunia Kedua, ayahnya bergabung dengan Angkatan Darat, sementara ibunya bekerja di pabrik pesawat Boeing di Wichita, Kansas.

http://1.bp.blogspot.com/_zKBbtj9rWrU/SQ-NXHiDBLI/AAAAAAAAAOI/KBnd2Xz_bRg/s400/Ann,_Madelyn,_and_Stanley_Dunham.jpg

Usai Perang Dunia, keluarga Dunhams pindah ke California, Texas lalu Seattle, Washington. Tahun 1959, keluarga Dunhams memutuskan pindah Hawaii, yang di tahun itu resmi menjadi negara bagian ke-50 Amerika Serikat.

Di Republik Aloha, Stanley Amour bekerja sebagai staf pemasaran di sebuah toko furniture.

Adapun Madelyn Lee menapaki kariernya di Bank of Hawaii, hingga tahun 1970 ia menjadi salah seorang wanita yang duduk di kursi wakil direktur. Stanley Amour yang oleh Obama dipanggil Gramps, meninggal tahun 1992 dan dikuburkan di Makam Nasional Punchbowl, di Honolulu. Sementara Madelyn Lee Dunham yang dipanggil Toots hingga kini masih menetap di Honolulu.

Ann Dunham menyusul kedua orangtuanya setalah ia lulus dari Mercer Islands High School di Washington tahun 1960.

http://twominuterealitycheck.com/obamasr.jpghttp://noobamanation.com/images/NON5.png

Begitu tiba di Hawaii dia melanjutkan pendidikan di jurusan antropologi UHM, dimana dia kemudian bertemu dan jatuh cinta dengan Barack Hussein Obama Sr, mahasiswa jurusan ekonomi asal Kenya dari suku Luo yang juga merupakan mahasiswa Afrika pertama yang kuliah di Hawaii ketika itu.

Keinginan Ann Dunham dan Obama Sr. membangun mahligai rumah tangga sempat ditentang kedua keluarga, terutama keluarga Obama Sr. di Kenya.

Dalam sepucuk surat, ayah Obama Sr., Onyango Hussein Obama, mengatakan tak rela bila darah keturunannya bercampur dengan darah wanita kulit putih. Tetapi Obama Sr. bersikeras. Pernikahan mereka berlangsung di Pulau Maui tanggal 2 Februari 1961. Tak lama kemudian, 4 Agustus 1961, Obama Jr. lahir di Honolulu.

Tahun 1963 Obama Sr. melanjutkan studi ke Harvard University, di Massachusetts.

Ia meninggalkan Ann Dunham dan anak semata wayang mereka yang baru berusia dua tahun.

Setelah mendapatkan gelar master bidang ekonomi di tahun 1965, Obama Sr. kembali ke Kenya.

Di awal 1970-an, ia sempat menemui Obama Jr. di Honolulu. Itu adalah pertemuan terakhir mereka.

Tahun 1982 Obama Sr. tewas dalam sebuah kecelakaan di Kenya.

Tahun 1967, Ann Dunham menikah dengan Lolo Soetoro, mahasiswa jurusan geografi UHM asal Indonesia yang ditemuinya di East West Center (EWC). Di tahun yang sama Ann Dunham dan Obama mengikuti Lolo ke Indonesia.

Maya Soetoro-Ng, buah pernikahan Ann Dunham dan Lolo lahir di Jakarta tanggal 15 Agustus 1970.

Setahun kemudian, setelah empat tahun menetap di Jakarta, Obama memilih kembali ke Hawaii, melanjutkan sekolahnya di Punahou School di Honolulu.

Di tahun 1980 dia dan Lolo sepakat berpisah. Mereka tetap berhubungan baik sampai Lolo meninggal dunia pada Januari 1987.

Jakarta dan Indonesia adalah tempat Ann Dunham memulai karier profesional.

Antara Januari 1968 hingga Desember 1969 dia bekerja sebagai asisten direktur Lembaga Indonesia Amerika di Jakarta. Lalu antara Januari 1970 hingga Agustus 1972 dia menjadi salah seorang direktur Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Manajemen (LPPM). Salah satu tugasnya adalah mensupervisi penerbitan buku-buku pendidikan dan manajemen.

Tahun 1973 Ann Dunham pulang ke Hawaii bersama Maya untuk menyelesaikan pendidikan master di jurusan antropologi UHM. Tahun 1977 dia kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai instruktur di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan setahun kemudian menjadi konsultan di kantor International Labor Organization (ILO) di Jakarta. Antara Oktober 1978 hingga Desember 1980, Ann Dunham menjadi konsultan pembangunan pedesaan USAID di Departemen Perindustrian. Di masa ini, Ann Dunham sering mengunjungi desa-desa terpencil di pedalaman Jawa Tengah untuk membantu kelompok perempuan miskin yang ditemuinya disana.

Selesai dengan USAID, antara Januari 1981 hingga November 1984 Ann Dunham menjadi supervisor program pemberdayaan perempuan dalam pembangunan di kantor Ford Foundation Asia Tenggara di Jakarta. Bersama, antara lain, Dr. Pujiwati Sayogyo dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Ann Dunham mengembangkan proyek penelitian mengenai perempuan di sektor pertanian.

Antara 1986 hingga 1987 Ann Dunham bekerja sebagai konsultan pembangunan pedesaan di Pakistan. Dalam program yang dibiayai Asian Development Bank (ADB) itu dia ikut mendesain skema mikrokredit untuk perempuan dan perajin di provinsi Gujranwala.

Tahun 1988 Ann Dunham kembali ke Indonesia. Kali ini ia menjadi koordinator riset dan konsultan di Bank Rakyat Indonesia (BRI). Sebagai konsultan, Ann Dunham ikut melatih karyawan BRI di tujuh provinsi, membantu menyiapkan skema mikrokredit bagi masyarakat miskin, menganalisa data, hingga memberikan rekomendasi kepada pimpinan BRI. Dia menyelesaikan tuganya di BRI tahun 1992. Di tahun yang sama dia kembali ke Hawaii untuk mempertahankan disertasinya.

Setelah menggondol gelar PhD bidang antropologi, tahun 1993 Ann Dunham menjadi koordinator riset dan kebijakan Women’s World Bank (WWB) di New York. Ia ikut menyiapkan program pengembangan kebijakan dengan 52 lembaga internasional di 40 negara Asia, Afrika dan Amerika Latin yang berafiliasi dengan WWB.

http://www.telegraph.co.uk/telegraph/multimedia/archive/00661/news-graphics-2008-_661332a.jpg

Puteri ANN DUNHAM, Maya Soetoro

Ann Dunham juga berperan dalam Konferensi Wanita yang diselenggarakan PBB di Beijing bulan September 1995.

Menjelang ulang tahunnya yang ke-53, tanggal 7 November 1995 Ann Dunham meninggal dunia karena kanker ovarian.

butterflyRoses.gif butterflies and roses (animated) image by victornlaura


Saya tidak berkeinginan untuk menuliskan "hal-hal sangat rumit" mengenai sepak terjang Almarhumah ANN DUNAM semasa hidupnya.

Tetapi, ada sebuah pesona yang "mencuri hati saya" dan siapapun juga yang menyimak perjalanan hidup ANN DUNHAM.

http://www.metastaticlivercancer.org/images/ovarian-cancer-survivor-stories.jpg

Bukan keinginannya semasa hidup, bisa mempunyai seorang anak yang "kelak" bisa menjadi salah satu pemimpin dunia yang tersohor. Yang dilakukannya semasa hidup, adalah mencintai dan mengabdikan dirinya secara total terhadap apapun serta siapapun yang menjadi bagian dari cinta yang ia miliki didalam dirinya.

Ia mencintai secara total pekerjaannya.

Ia mencintai secara total orang-orang kecil tak berdaya yang dijumpainya di berbagai belahan dunia sehingga dengan bermodalkan cinta yang tulus itulah ANN DUNHAM memberikan sesuatu yang bisa ia lakukan untuk menolong.

Ia mencintai secara total keluarga intinya, terutama kedua permata hatinya.

Saat salah seorang permata hatinya (Barack Hussein Obama), berhasil memenangkan pertarungan politik di AMERIKA SERIKAT bulan November 2008 maka mau tak mau nama ANN DUNHAM ikut menjadi bahan perbincangan.

Ia dianggap sebagai "orang yang paling berjasa" membentuk karakter Barack Hussein Obama.

Kalau cuma diperbincangkan dari sisi yang positif, sah sah saja dan boleh boleh saja. Tetapi, yang sungguh menyedihkan hati adalah ada sebagian kecil yang menyoroti hal-hal pribadi yang sifatnya sangat sensitif.

Pernikahan dan agama yang dianutnya.

Manusia, kadang-kadang tak bisa lepas dari karakter buruk yang terus dicoba oleh kalangan iblis ke dalam hati manusia-manusia kerdil yang tak bisa tenang jika belum membicarakan atau melakukan hal buruk untuk merugikan pihak lain.




Tidak ada yang salah dalam pernikahan ANN DUNHAM, baik ketika ia menikah dengan sangat tulus bersama seorang pria Kenya (Obama Senior).

Dan saat statusnya menjanda, ia menikah kembali dengan pria Indonesia (Lolo Soetoro).

Dimana letak kesalahannya ? Tidak ada samasekali !



Ia mencintai pria yang diyakininya dapat membahagiakan dirinya. Dari pernikahan itu, ia dan pasangan hidupnya dikaruniai anak yang ternyata sangat membanggakan.

Tak ada perselingkuhan. Tak ada kekerasan dalam rumah tangga. Tak ada sedikitpun kenistaan yang mengotori.

Perbedaan budaya dari latar belakang ANN DUNHAM dengan pria yang dicintai dan mencintainya, adalah faktor terkuat yang barangkali menjadi kendala terberat dan terbesar untuk membawa pernikahan itu ke dalam mahligai yang penuh keabadian.

Begitupun dalam hal agama atau iman kepercayaan yang dianutnya.

Kita sebagai manusia, seakan menjadi HAKIM atau TUHAN dari sesama kita manusia bila dengan sangat arogan mencari-cari kesalahan atau kelemahan orang lain dari sudut pandang agama.

Agama atau kepercayaan apapun yang dianut oleh manusia, sepanjang itu diyakininya tanpa paksaan dan sungguh dijalankan sepenuh hati, manusia manapun tak punya hak untuk menghakimi atau menggugat.

rose_red.gif red rose image by sandiek0207rose_red.gif red rose image by sandiek0207rose_red.gif red rose image by sandiek0207

ANN DUNHAM adalah mawar surga yang sangat pantas untuk dikenang dari sudut pandang yang penuh kebaikan, keindahan dan keabadian cinta yang memukau hati.

ANN DUNHAM adalah mawar surga yang tak ingin berpura-pura semasa hidupnya sehingga tanpa membedakan suku ,agama, ras dan golongan, yang dilakukan ANN DUNHAM adalah kebaikan demi kebaikan demi nilai-nilai kemanusiaan.

ANN DUNHAM adalah mawar surga yang pantas dihormati sebagai pejuang kehidupan yang begitu banyak menolong dan berbagi kasih terhadap sesamanya manusia yang ketika ANN DUNHAM masih hidup didunia yang fana ini ... orang-orang yang banyak ditolongnya adalah orang-orang kecil yang sungguh miskin dan tak berdaya.

rose_red.gif red rose image by sandiek0207rose_red.gif red rose image by sandiek0207rose_red.gif red rose image by sandiek0207

Sulit bagi siapapun untuk mengukur dan menilai jasa baik dan nilai kepejuangan orang lain yang dilakukan kepada orang-orang kecil yang sungguh miskin dan tak berdaya, jika kita sendiri belum pernah menjadi bagian dari kalangan papa yang sangat menderita.

Yang mau dikatakan disini adalah orang-orang yang mendapat perhatian, pertolongan dan curahan kasih sayang ANN DUNHAM semasa hidupnya, tak akan pernah melupakan jasa baik dan kesempurnaan karakter yang memukau dari figur kepribadian ANN DUNHAM.

Misalnya satu orang saja -- dari yang ditolong itu -- memanjatkan doa kepada Sang Pencipta karena telah mendapatkan pertolongan, maka bayangkan kalau yang mendoakan itu tidak cuma satu. Tetapi sangat amat BANYAK !

Belum lagi, kalau keluarga yang ditolong itu, menceritakan turun temurun kepada keluarga besarnya bahwa ada seorang PEREMPUAN AMERIKA SERIKAT yang tak kenal lelah berbuat kebaikan semasa hidupnya dari tempat yang terpencil ke tempat yang terpencil lainnya di berbagai belahan dunia.

Dalam ajaran agama Kristen ditekankan satu hal yang sangat mendasar yaitu IMAN, TANPA PERBUATAN ADALAH MATI !

Artinya, agama yang dianut akan sia-sia, jika sepanjang hidupnya manusia tidak melakukan apapun yang diajarkan dalam agama itu.

ANN DUNHAM, memang harus dihormati sebagai seorang perempuan hebat yang telah mempersembahkan hidupnya bagi nilai-nilai kemanusiaan. Berbuat yang terbaik bagi sesamanya manusia, tanpa mengenal suku, agama, ras dan golongan.

http://blogs.fayobserver.com/livewire/files/2008/03/obamas-mother.jpg

Dan dari perjalanan yang panjang dalam hidupnya selama hampir 53 tahun, Indonesia adalah salah satu tempat yang dicintai dan banyak dikunjungi oleh ANN DUNHAM.

IBU ANN DUNHAM, terimakasih untuk cinta anda kepada "INDONESIA".

IBU ANN DUNHAM, terimakasih untuk cinta anda kepada orang-orang miskin dan tak berdaya, yang telah anda cintai, anda tolong dan anda kunjungi semasa hidup anda dulu.

IBU ANN DUNHAM, terimakasih untuk mengajarkan kepada siapa saja perempuan didunia ini agar tak takut dan tak kenal lelah untuk berbuat kebaikan kepada sesama tanpa mengenal suku, agama, ras dan golongan.



Ya,terimakasih IBU ANN, untuk cinta anda yang tulus tak terhingga kepada sesama manusia.

Dan menutup tulisan ini, ingin rasanya saya mewakili orang-orang yang pernah dicintai dan ditolong ANN DUNHAM semasa hidupnya untuk menyanyikan sebuah lagu yang sangat terkenal di Indonesia saat ini yaitu TERIMAKASIH CINTA !

Semoga di tempatnya kini ia berada, "MAWAR SURGA" yang tampak begitu cantik dengan rambutnya yang tergerai panjang dengan senyum yang begitu manis ini, tetap mau tersenyum menerima dan mendengarkan lagu ini.

Ya, TERIMAKASIH CINTA !

http://i.peperonity.com/c/25F346/462071/ssc3/home/005/elinor2/merci.gif_320_320_256_9223372036854775000_0_1_0.gif

Terimakasih, Cinta (Lagu dari AFGAN)

Tersadar didalam sepiku
Setelah jauh melangkah
Cahaya kasihmu menuntunku
Kembali dalam dekap tanganmu

Terima kasih cinta untuk segalanya
Kau berikan lagi kesempatan itu
Tak akan terulang lagi
Semuaaa kesalahanku yang pernah menyakitimu

Tanpamu tiada berarti
Tak mampu lagi berdiri
Cahaya kasihmu menuntunku
Kembali dalam dekapan tanganmu

Terima kasih cinta untuk segalanya
Kau berikan lagi kesempatan itu
Tak akan terulang lagi
Semuaaa kesalahanku yang pernah menyakitimu

ouuwwww...
ouuwwww...

Terima kasih cinta untuk segalanya
Kau berikan lagi kesempatan itu
Tak akan terulang lagi
Semuaaa kesalahanku oouuwww
Kesalahanku yang pernah menyakitimu


(MS)


Cest Pour Kiti

http://www.americanbeautybordercollies.com/sitebuildercontent/sitebuilderpictures/animation26.gif
LAMPIRAN YANG DIKUTIP DARI WWW.TEGUHTIMUR.COM :

Pendekar-Pendekar Besi Nusanta

May 14, 2009 in 2007 HAWAII, CATATAN

obama ann dunham warna

Pendekar-pendekar Besi Nusantara
[Diangkat dari Disertasi Stanley Ann Dunham, Peasant Blacksmithing in Indonesia: Surviving and Thriving Against all Odds, diterbikan Mizan, 2008]

Kata Pengantar oleh: Teguh Santosa

Mahasiswa University of Hawaii at Manoa (UHM),
Student Affiliate East West Center (EWC)

“Baik pada masa Perang Dingin, masa détente (peredaan ketegangan) sampai sekarang, intisari dari seluruh politik luar negeri Amerika di bawah para presiden dari Partai Republik maupun dari Partai Demokrat sama saja, yakni berusaha memegang hegemoni dan supremasi dunia. Hegemoni dan supremasi itu dimaksudkan berlaku di bidang ekonomi, politik, teknologi dan militer. Bila dilihat dari kelahirannya, lembaga-lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa Bangsa (United Nations), Bank Dunia, IMF dan WTO sejak semula dirancang untuk melindungi kepentingan ekonomi jangka panjang Amerika dan sekutu-sekutunya.”
Selamatkan Indonesia, Mohammad Amien Rais (2008)

Amerika Serikat yang dibangun di atas nilai-nilai kemanusiaan kini telah menjadi imperium yang, seperti Imperium Roma di masa lalu, menggunakan mesin perang dan kekuatan militer untuk memperluas wilayah kekuasaan, menaklukkan dan mengeksploitasi dunia.

Ketika Senator Illinois kelahiran Hawaii Barack Hussein Obama menyampaikan tekadnya mengubah watak imperialis Amerika —kecenderungan negara itu memperluas daerah kekuasaan dengan jalan menaklukkan bangsa dan negara lain untuk kepentingan ekonomi, industri dan modal— banyak pihak yang bertanya: apakah dia sudah gila? Setelah Obama secara resmi dicalonkan Partai Demokrat untuk menduduki kursi presiden Amerika Serikat, banyak orang yang bertanya, kali ini dengan harap-harap cemas: mampukah Obama?

Buku yang sedang berada di genggaman pembaca ini bukanlah buku tentang janji manis yang disampaikan Obama menjelang pemilihan presiden Amerika yang bila tak ada aral melintang akan digelar sebulan setelah buku ini dirilis. Bahkan buku ini sama sekali tidak berkaitan langsung dengan proses pemilihan itu.

Buku ini diangkat dari sebuah disertasi pada jurusan antropologi University of Hawaii at Manoa (UHM) yang berjudul Peasant Blacksmithing in Indonesia: Surviving and Thriving Against all Odds, yang membahas dengan sangat bernas kehidupan sosial dan ekonomi perajin besi di sebuah desa di selatan Jogjakarta, Indonesia.

Karya akademik ini dinilai semakin penting karena penulisnya adalah Ann Dunham, ibunda Barack Obama. Stanley Ann Dunham menghabiskan sebagian besar karier profesional dan akademiknya untuk kehidupan masyarakat miskin, terutama perempuan, di pedesaan Indonesia.

Ia bukan sekadar perempuan yang melahirkan dan membesarkan Obama. Lebih dari itu, Ann Dunham adalah teman diskusi yang turut membentuk pemahaman Obama mengenai realita dunia di luar Amerika Serikat. Membuat Obama mengerti dan menyadari bahwa berbagai perbedaan yang ada di muka bumi ini, sesuatu yang fitrah dan given, mestilah dijembatani dengan dialog, bukan dengan mesin perang.

“Ia adalah orang yang paling baik hati dan pemurah, yang pernah saya kenal. Ini merupakan hal terbaik yang saya miliki, dan saya berutang padanya,” tulis Obama dalam pengantar memoirnya, Dream from My Father, edisi 2004.

Untuk mempersiapkan buku ini, penulis berdiskusi secara intens dengan adik tiri Obama, Maya Soetoro-Ng, dan Profesor Alice Dewey dari jurusan antropologi UHM yang menjadi ketua komite disertasi Ann Dunham. Penulis sependapat dengan Maya dan Prof. Dewey, bahwa buku ini juga dapat memberikan gambaran mengenai hubungan segitiga antara Obama, Ann Dunham, dan pemahaman akan multikulturalisme yang sangat dibutuhkan pemimpin Amerika.

“Banyak hal yang diwarisi Obama dari ibu,” kata Maya. “Ibu kami idealistis sekaligus praktis, senang cerita dan bercerita. Obama mampu merangkul banyak orang karena ia, seperti ibu, menyukai cerita. Ia merangkai cerita demi cerita dan menemukan bahwa satu cerita mewarnai cerita lain. Ia mengangkat pengalaman hidup individu menjadi pengalaman hidup bersama rakyat Amerika dan dunia. Cerita-cerita itulah yang menginspirasi Obama.”

***

Tetapi sekali lagi, apakah Obama sungguh mampu mengubah watak dan tradisi politik Amerika? Sanggupkah ia melakukan perlawanan dari dalam, melawan kaum Hawkish dan korporatokrat yang mengumpulkan kekayaan lewat jalan perang?

Setelah peristiwa 9/11 tahun 2001, tulis Prof. Chalmers Johnson dari University of California dalam buku The Sorrow of Empires (2004), elit politik Amerika mulai membayangkan negara itu sebagai Roma baru yang tidak terikat pada hukum internasional, sehingga dapat melakukan apa saja yang mereka inginkan, termasuk menghancurkan kelompok atau siapapun yang mereka identifikasi dan kreasi sebagai musuh.

Namun sesungguhnya watak imperialisme Amerika itu sudah mulai tampak sejak, setidaknya, Perang Dunia Kedua berakhir. Dan pendekatan militeristik adalah satu dari tiga pendekatan utama yang digunakan Amerika untuk memperkuat cengkeramannya di sebuah negara.

Pendekatan kedua relatif lebih halus seperti yang dibeberkan John Perkins dalam buku Confession of the Economic Hit Man (2004). Perkins adalah salah seorang “mesin perusak ekonomi” yang disusupkan pemerintah Amerika untuk merusak pondasi ekonomi negara berkembang, termasuk Indonesia, dan menciptakan ketergantungan pada ekonomi pasar yang dikontrol Amerika. Tugas utama Perkins adalah meyakinkan otoritas politik dan keuangan negara berkembang untuk menerima utang (yang disamarkan dengan istilah bantuan) dalam jumlah yang begitu besar dari lembaga-lembaga keuangan internasional rekaan Amerika seperti Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF).

Setelah jumlah utang berbulu bantuan berikut bunganya semakin membesar —dimana sebagian darinya lenyap ditelan praktik korupsi— dan tak dapat dibayar kembali, otoritas politik negara berkembang itu pun dipaksa tunduk, menyerah dan menerima begitu saja semua keinginan Amerika yang disusupkan lewat produk hukum yang dihasilkan lembaga legislatif dan/atau eksekutif serta diamini oleh lembaga yudisial.

Bagaimana bila otoritas politik di negara berkembang yang sudah terperangkap ini tetap berani menolak tekanan Amerika?

Mereka akan dihabisi, kata Perkins sambil mencontohkan nasib Presiden Ecuador Jaime Roldos Aguilera dan Presiden Panama Omar Torrijos Herrera. Kedua mantan presiden dari dua negara yang walau telah terperangkap namun masih berani menentang keinginan Amerika itu tewas dalam kecelakaan pesawat yang begitu mengerikan. Kecelakan itu, kata Perkins, direkayasa oleh jagal Central Intelligent America (CIA), dinas rahasia Amerika. Roldos tewas di bulan Mei 1981. Adapun Torrijos tewas tak lama kemudian, Agustus 1981. Perkins mendedikasikan Confession of the Economic Hit Man untuk kedua korban yang pernah jadi kliennya itu.

Pembangunan negara berkembang yang didesain oleh para economic hit men ini pada akhirnya menghasilkan struktur ekonomi yang rapuh dan rentan, yang kalaupun tampak berkilauan dari luar namun sesungguhnya kosong melompong ibarat gelembung yang dapat meletus setiap saat.

Seperti gelas anggur, mengutip istilah yang digunakan ekonom senior Indonesia, Dr. Rizal Ramli, pembangunan di negara berkembang hanya menguntungkan dan memakmurkan kelompok elit, kaum konglomerat yang mendapat privilege karena memiliki relasi politik yang kuat dengan pusat kekuasaan. Mereka adalah mesin uang yang bekerja di belakang dan mendorong keberlangsungan hidup elit politik. Jumlah kelompok ini tidak banyak. Di Indonesia, menurut Dr. Rizal Ramli, walau hanya terdiri dari ratusan keluarga konglomerat namun kelompok ini menguasai 80 persen “kue pembangunan”.

Kelompok kedua yang dihasilkan proses pembangunan model ini adalah kelas menengah yang rapuh dan kelompok profesional yang tidak mandiri secara ekonomi dan politik. Sementara kelompok terakhir adalah masyarakat kelas bawah yang jumlahnya begitu banyak, hasil dari proses peminggiran dan pengabaian yang dilakukan rezim secara terus menerus. Kebijakan ekonomi, politik, juga hukum jelas tidak berpihak kepada kelompok ini.

Nah, pendekatan ketiga yang digunakan Amerika untuk menaklukkan sebuah negara dan menguasai sumber daya alamnya adalah dengan mendukung pemerintahan boneka yang otoriter.

Walhasil, seperti ditulis Johnson dalam bukunya yang lain, Blowback (2000), diktator boneka yang didukung Amerika tersebar di banyak negara di banyak kawasan, mulai dari Syngman Rhee yang berkuasa di Korea Selatan dari tahun 1948 hingga 1960 diikuti oleh jenderal-jenderal boneka Korea Selatan setelahnya, hingga Shah Mohammed Riza Pahlevi di Iran (1953-1979), Soeharto di Indonesia (1965-1998), Ferdinand Marcos di Filipina (1965-1986), termasuk Saddam Hussein di Irak (1979-2003) yang di awal 1980-an merupakan skondan terbaik Amerika Serikat untuk menghadang revolusi Iran 1979.

Setelah Uni Soviet dan blok komunis bangkrut di awal 1990-an, Amerika menjadi satu-satunya polisi dunia yang secara de facto memiliki kekuasaan penuh untuk menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh negara lain. Amerika dengan leluasa menentukan siapa yang menjadi kawan atau lawan mereka. Setiap kawan akan dianugerahi wortel, dan sebaliknya, setiap lawan akan dipentung.

Namun, siapa yang menabur angin akan menuai badai. Inilah blowback, konsekuensi yang tak terbayangkan sebelumnya, tulis Johnson. Ia meminjam istilah yang dipergunakan pertama kali dalam laporan rahasia CIA setelah menggulingkan pemerintahan Mohammad Mossadegh di Iran tahun 1953.

“Operasi yang menghasilkan blowback biasanya dirahasiakan dari publik Amerika dan wakil mereka di Kongres. Maka, ketika rakyat sipil (Amerika) yang tak bersalah menjadi korban dari serangan balasan yang dilancarkan pihak lain, awalnya mereka tidak mampu meletakkan serangan itu dalam konteksnya atau tidak memahami kejadian-kejadian sebelumnya yang mendorong aksi pembalasan itu,” tulis Johnson.

Dari sudut pandang ini, Johnson menilai bahwa peristiwa 9/11 sebetulnya merupakan blowback dari operasi rahasia (covert operations) CIA mempersenjatai kelompok mujahiddin Afghanistan dan Muslim militan dari banyak negara untuk menghadapi Uni Soviet dan komunis yang tengah melebarkan sayap di Asia Tengah di era 1980-an.

Sayangnya, kelompok Hawkish dan korporatokrat yang berkuasa di Gedung Putih menggunakan peristiwa 9/11 sebagai alat untuk menjustifikasi aksi polisional mereka ke Afghanistan (2001), lalu Irak (2003). Perang, bagi mereka, telah menjadi industri yang memberikan keuntungan ekonomi luar biasa, sehingga mereka tidak peduli dengan akibat dan kerugiaan yang ditanggung oleh korban di medan perang, orang-orang yang tidak berdosa, dan pemuda-pemuda Amerika yang mendukung patriotisme Amerika secara buta.

Malam itu, ketika Obama menyampaikan pidato politiknya di Konvensi Nasional Demokrat di Colorado, Just Foreign Policy (www.justforeignpolicy.org) mencatat, setidaknya 1.255.026 orang Irak tewas sejak Amerika menginvasi negara itu. Adapun Anti War (www.antiwar.com) memprediksikan tak kurang dari 4.150 tentara Amerika tewas dan sekitar 100 ribu lainnya terluka di medan perang Irak. Selain itu, menurut National Priority Project (www.nationalpriority.org), Amerika telah menghabiskan sekurang-kurangnya 550 miliar dolar AS untuk operasi militer di Irak.

***

Stanley Ann Dunham lahir di Forth Leavenworth, Kansas, 29 November 1942. Ia adalah anak tunggal pasangan Stanley Amour Dunham dan Madelyn Lee Payne. Nama Stanley diberikan ayahnya yang begitu menginginkan anak laki-laki. Sepanjang Perang Dunia Kedua, ayahnya bergabung dengan Angkatan Darat, sementara ibunya bekerja di pabrik pesawat Boeing di Wichita, Kansas. Usai Perang Dunia, keluarga Dunhams pindah ke California, Texas lalu Seattle, Washington. Tahun 1959, keluarga Dunhams memutuskan pindah Hawaii, yang di tahun itu resmi menjadi negara bagian ke-50 Amerika Serikat.

Di Republik Aloha, Stanley Amour bekerja sebagai staf pemasaran di sebuah toko furniture. Adapun Madelyn Lee menapaki kariernya di Bank of Hawaii, hingga tahun 1970 ia menjadi salah seorang wanita yang duduk di kursi wakil direktur. Stanley Amour yang oleh Obama dipanggil Gramps, meninggal tahun 1992 dan dikuburkan di Makam Nasional Punchbowl, di Honolulu. Sementara Madelyn Lee Dunham yang dipanggil Toots hingga kini masih menetap di Honolulu.

Ann Dunham menyusul kedua orangtuanya setalah ia lulus dari Mercer Islands High School di Washington tahun 1960. Begitu tiba di Hawaii dia melanjutkan pendidikan di jurusan antropologi UHM, dimana dia kemudian bertemu dan jatuh cinta dengan Barack Hussein Obama Sr, mahasiswa jurusan ekonomi asal Kenya dari suku Luo yang juga merupakan mahasiswa Afrika pertama yang kuliah di Hawaii ketika itu.

Keinginan Ann Dunham dan Obama Sr. membangun mahligai rumah tangga sempat ditentang kedua keluarga, terutama keluarga Obama Sr. di Kenya. Dalam sepucuk surat, ayah Obama Sr., Onyango Hussein Obama, mengatakan tak rela bila darah keturunannya bercampur dengan darah wanita kulit putih. Tetapi Obama Sr. bersikeras. Pernikahan mereka berlangsung di Pulau Maui tanggal 2 Februari 1961. Tak lama kemudian, 4 Agustus 1961, Obama Jr. lahir di Honolulu.

Tahun 1963 Obama Sr. melanjutkan studi ke Harvard University, di Massachusetts. Ia meninggalkan Ann Dunham dan anak semata wayang mereka yang baru berusia dua tahun. Setelah mendapatkan gelar master bidang ekonomi di tahun 1965, Obama Sr. kembali ke Kenya. Di awal 1970-an, ia sempat menemui Obama Jr. di Honolulu. Itu adalah pertemuan terakhir mereka. Tahun 1982 Obama Sr. tewas dalam sebuah kecelakaan di Kenya.

Tahun 1967, Ann Dunham menikah dengan Lolo Soetoro, mahasiswa jurusan geografi UHM asal Indonesia yang ditemuinya di East West Center (EWC). Di tahun yang sama Ann Dunham dan Obama mengikuti Lolo ke Indonesia. Maya Soetoro-Ng, buah pernikahan Ann Dunham dan Lolo lahir di Jakarta tanggal 15 Agustus 1970. Setahun kemudian, setelah empat tahun menetap di Jakarta, Obama memilih kembali ke Hawaii, melanjutkan sekolahnya di Punahou School di Honolulu.

Pernikahan kedua Ann Dunham juga tidak berlangsung lama. Di tahun 1980 dia dan Lolo sepakat berpisah. Mereka tetap berhubungan baik sampai Lolo meninggal dunia pada Januari 1987.

Jakarta dan Indonesia adalah tempat Ann Dunham memulai karier profesional. Antara Januari 1968 hingga Desember 1969 dia bekerja sebagai asisten direktur Lembaga Indonesia Amerika di Jakarta. Lalu antara Januari 1970 hingga Agustus 1972 dia menjadi salah seorang direktur Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Manajemen (LPPM). Salah satu tugasnya adalah mensupervisi penerbitan buku-buku pendidikan dan manajemen.

Tahun 1973 Ann Dunham pulang ke Hawaii bersama Maya untuk menyelesaikan pendidikan master di jurusan antropologi UHM. Tahun 1977 dia kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai instruktur di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan setahun kemudian menjadi konsultan di kantor International Labor Organization (ILO) di Jakarta. Antara Oktober 1978 hingga Desember 1980, Ann Dunham menjadi konsultan pembangunan pedesaan USAID di Departemen Perindustrian. Di masa ini, Ann Dunham sering mengunjungi desa-desa terpencil di pedalaman Jawa Tengah untuk membantu kelompok perempuan miskin yang ditemuinya disana.

Selesai dengan USAID, antara Januari 1981 hingga November 1984 Ann Dunham menjadi supervisor program pemberdayaan perempuan dalam pembangunan di kantor Ford Foundation Asia Tenggara di Jakarta. Bersama, antara lain, Dr. Pujiwati Sayogyo dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Ann Dunham mengembangkan proyek penelitian mengenai perempuan di sektor pertanian.

Antara 1986 hingga 1987 Ann Dunham bekerja sebagai konsultan pembangunan pedesaan di Pakistan. Dalam program yang dibiayai Asian Development Bank (ADB) itu dia ikut mendesain skema mikrokredit untuk perempuan dan perajin di provinsi Gujranwala.

Tahun 1988 Ann Dunham kembali ke Indonesia. Kali ini ia menjadi koordinator riset dan konsultan di Bank Rakyat Indonesia (BRI). Sebagai konsultan, Ann Dunham ikut melatih karyawan BRI di tujuh provinsi, membantu menyiapkan skema mikrokredit bagi masyarakat miskin, menganalisa data, hingga memberikan rekomendasi kepada pimpinan BRI. Dia menyelesaikan tuganya di BRI tahun 1992. Di tahun yang sama dia kembali ke Hawaii untuk mempertahankan disertasinya.

Setelah menggondol gelar PhD bidang antropologi, tahun 1993 Ann Dunham menjadi koordinator riset dan kebijakan Women’s World Bank (WWB) di New York. Ia ikut menyiapkan program pengembangan kebijakan dengan 52 lembaga internasional di 40 negara Asia, Afrika dan Amerika Latin yang berafiliasi dengan WWB. Ann Dunham juga berperan dalam Konferensi Wanita yang diselenggarakan PBB di Beijing bulan September 1995.

Menjelang ulang tahunnya yang ke-53, tanggal 7 November 1995 Ann Dunham meninggal dunia karena kanker ovarian. Ketika Ann Dunham menghembuskan nafas terakhir, Obama tak berada di sampingnya. Ia sedang berada di Chicago, berkampanye untuk mendapatkan posisi publik di kota itu. Obama tiba di Honolulu setelah tubuh ibunya dikremasi.

Dalam memoirnya, Obama mengenang ibunya sebagai wanita yang tangguh, pekerja keras yang memiliki kepedulian kepada sesama manusia, bersahabat, dan family-woman.

“Sepuluh tahun terakhir dalam hidupnya dihabiskan untuk mengerjakan hal-hal yang disenanginya, berkeliling dunia, bekerja di pedalaman Asia dan Afrika, membantu wanita membeli mesin jahit, atau susu sapi, atau membantu pendidikan yang dapat jadi pegangan hidup mereka. Dia mengumpulkan teman, baik yang berasal dari kelas sosial tinggi maupun rendah, berjalan jauh, memandang bulan, menyusuri pasar tradisional di Delhi atau Marrakesh. Dia menulis laporan, membaca novel, mendorong anak-anaknya, dan memimpikan kehadiran cucu,” tulis Obama.

Pada suatu pagi tak lama setelah tubuh Ann Dunham diperabukan, bersama kerabat dan teman-teman dekat keluarga Dunhams, Obama dan Maya menyebarkan abu ibu mereka di pantai selatan Pulau Oahu. Angin meniup abu itu ke tengah Samudera Pasifik, ke arah Indonesia.

Honolulu,

2 September 2008

Membanggakan Pidato Obama Yang Tekankan Pentingnya Harmonisasi Hubungan Baru AS & Dunia Islam

r1786556781.jpg (410×317)

Jakarta 5/6/2009 (KATAKAMI) Dengan tangan kidalnya, Barack Hussein Obama memberikan lambaian kepada seluruh hadirin yang mendengarkan pidato berjudul PERMULAAN YANG BARU di Universitas Kairo.

Transkrip utuh dari pidato Presiden Obama, kami muat dalam semua blog KATAKAMI.

Dunia Arab menyambut baik pidato Obama. Ini disampaikan Sekretaris Liga Arab, Amr Moussa mengatakan pidato Obama penuh pertimbangan dan visioner.


P060409CK-0297 by The Official White House Photostream.

Mengawali pidatonya dengan sapaan berbahasa Arab “Assalamualaikum” dan mencantumkan kutipan ayat Quran sebanyak 4 kali, terlihat betul bahwa Obama memang menyiapkan betul-betul pidato itu dengan sebaik-baiknya agar dapat maksimal dan memberikan bobot yang tinggi dalam penilaiannya secara merata di mata semua pihak.

Ia juga menyelipkan kutipan dari Injil, tanpa bermaksud untuk menggurui. Tetapi, Obama pasti ingin ada ada keselarasan dan keseimbangan yang menyatu dalam pidato memukau itu.

capt.3e18c96c235d4e7eaaf7d7eff9fc32e6.us_egypt_mideast_obama_egym116.jpg (409×225)

Seluruh dunia telah mendengarkan pidato Obama yang sangat menyentuh hati dan menunjukkan bahwa AS memang benar ingin membangun (sekaligus memulihkan) hubungan dengan Dunia Islam — terutama yang menjadi skeptis dan penuh kecurigaan terhadap AS — pasca penanganan terorisme yang dinilai berlebihan oleh pemerintahan sebelum Obama.

Sejujurnya yang tidak adil dalam permasalahan ini adalah selalu saja AS yang dituding, dihujat dan disudutkan dalam sejumlah permasalahan global.

Tidak terdengar tudingan, hujatan dan agresivitas yang menyudutkan kelompok Al Qaeda misalnya.

Kami berbicara secara khusus kepada Sekjen PBB Ban Ki Moon, terutama kepada Dewan Keamanan PBB, mengapa tidak pernah ada keseriusan yang sangat melembaga untuk mengajukan Osama Bin Laden sebagai penjahat kemanusiaan dan pelanggar HAM berat.

Jika kepada Presiden Sudan Omar Hassan Al Basyir saja, Mahkamah Internasional berani mengirimkan surat penangkapan maka harusnya kepada seorang panglima tertinggi kelompok teroris paling sadis sedunia, PBB — khususnya Dewan Keamanan PBB — dan Mahkamah Internasional harus berani mengirimkan surat penangkapan. Kejahatan kemanusiaan, pelanggaran HAM dan pelanggaran hukum yang dilakukan Osama Bin Laden pada serangan 11 September 2001 dan sejumlah peledakan bom di berbagai belahan dunia yang didanai Al Qaeda, sangat amat layak dijadikan alasan bagi Mahkamah Internasional untuk menangkap Osama. Membunuh 3 ribu orang hanya dalam waktu sekian jam misalnya, itu adalah sebuah kejahatan kemanusiaan — atau tepatnya GENOSIDA –.

P06409PS-0213 by The Official White House Photostream.

Dan kembali pada pidato Presiden Obama di Kairo, telah berkumandang dengan baik di Mesir. Obama kini telah melanjutkan perjalanan berikutnya dalam lawatan luar negeri selama 5 hari ke 4 negara.

Saat ini ia berada di Jerman, dan selanjutnya akan berakhir pada kunjungan di Perancis.

Dunia Islam dan dunia internasional, menantikan bagaimana implementasi atau terwujudnya dari poin poin penting yang dijanjikan dan ditegaskan Presiden Obama dalam pidatonya tersebut.

Sambutlah uluran tangan dari AS yang disampaikan dengan penuh ketulusan kepada semua pihak — khususnya kepada Negara-Negara (Dunia) Islam.

Jangan ditampik. Jangan ditolak. Jangan didiamkan.

Sam
butlah uluran tangan mereka dan masing-masing pihak menunjukkan itikat yang baik untuk membangun sebuah lembaran baru yang penuh harmoni.

Harmonisasi yang mengiringi langkah kerjasama antara AS dengan Dunia Islam dengan prinsip saling menghormati, akan membuat kehidupan di dunia dan segala sesuatu terkait peradaban — pasti akan berlangsung menjadi lebih “hidup” dan “bersemarak” dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Obama memang terbukti telah berhasil menguasai “panggung” yang telah diisinya di Kairo dengan penyampaian pidato yang sangat membanggakan.

Jangan diartikan bahwa ia hendak menggurui atau bersikap lancang terhadap Islam, Umat Islam atau Negara-Negara Islam.

Janganlah diartikan bahwa AS bersikap ganda dalam menjalin relasi dan kerjasama dengan Dunia Muslim.

Seperti judul sebuah lagu, “Tomorrow Will Be Better”.

Ya, semoga hari esok memang menjadi lebih baik, lebih manusiawi, lebih taat hukum, lebih menyenangkan, lebih damai dan lebih berkualitas dalam semua aspek kehidupan di seluruh dunia, dengan adanya komitmen yang kuat dari seorang Barack Hussein Obama yang menegaskan kesungguhan dan keseriusan AS dalam menjalin hubungan baru yang saling menghormati ini.

Hubungan yang penuh harmonisasi. Hubungan yang saling menguntungkan. Hubungan yang tak akan lekang, walau dimakan oleh waktu.

Very good speech, Barry !

It’s very touching !

(MS)

LAMPIRAN :

Pidato Presiden Barack Hussein Obama DI Universitas Kairo : PERMULAAN YANG BARU

capt.21003973a86c4806ac91ee8932fbfdaa.aptopix_mideast_egypt_obama_abc118.jpg (409×257)

PRESIDEN BARACK HUSSEIN OBAMA :


Terima kasih. Selamat siang. Saya merasa terhormat untuk berada di kota Kairo yang tak lekang oleh waktu, dan dijamu oleh dua institusi yang luar biasa.

Selama lebih seribu tahun, Al Azhar telah menjadi ujung tombak pembelajaran Islam, dan selama lebih seabad, Universitas Kairo telah menjadi sumber kemajuan Mesir.

Bersama, anda mewakili keselarasan antara tradisi dan kemajuan. Saya berterima kasih atas keramahan anda, dan keramahan rakyat Mesir.

Dan saya juga bangga untuk membawa bersama saya niat baik rakyat Amerika, dan salam perdamaian dari warga muslim di negara saya: “assalamu’alaikum”.

Kita bertemu pada saat ada ketegangan besar antara Amerika Serikat dan warga Muslim seluruh dunia – ketegangan yang berakar pada kekuatankekuatan sejarah yang melampaui setiap perdebatan kebijakan yang kini berlangsung. Hubungan antara Islam dan Barat selama ini mencakup berabad-abad koeksistensi dan kerja sama, tapi juga konflik dan perangperang
bernuansa agama.

Akhir-akhir ini, ketegangan muncul akibat kolonialisme yang menyangkal hak dan peluang bagi banyak warga Muslim, serta sebuah Perang Dingin yang membuat banyak negara dengan mayoritas penduduk Muslim diperlakukan sebagai boneka tanpa mengacuhkan aspirasi mereka sendiri. Lebih jauh lagi, perubahan besar yang dibawa modernitas dan globalisasi membuat banyak Muslim menilai Barat bersikap memusuhi tradisi Islam.

Kalangan ekstrimis yang keras telah mengeksploitasi keteganganketegangan yang ada dalam segmen kecil namun merupakan minoritas kuat di kalangan Muslim ini.

Serangan pada tanggal 11 September 2001 dan upaya berkelanjutan dari kalangan ekstrimis ini untuk menyerang warga sipil telah membuat sebagian kalangan di negara saya untuk menilai Islam tidak saja memusuhi Amerika dan negara-negara Barat, tapi juga hak asasi manusia. Semua ini telah memupuk rasa takut dan lebih banyak rasa tidak percaya.

Selama hubungan kita ditentukan oleh perbedaan-perbedaan kita, kita akan memperkuat mereka yang menyebarkan kebencian bukan perdamaian, mereka yang mempromosikan konflik bukan kerja sama yang dapat membantu semua rakyat kita mencapai keadilan dan kemakmuran.

Lingkaran kecurigaan dan permusuhan ini harus kita akhiri.

flag_us.gif (98×57)

Saya datang ke Kairo untuk mencari sebuah awal baru antara Amerika Serikat dan Muslim diseluruh dunia, berdasarkan k
epentingan bersama dan rasa saling menghormati – dan didasarkan kenyataan bahwa Amerika danIslam tidaklah eksklusif satu sama lain, dan tidak perlu bersaing. Justru keduanya bertemu dan berbagi prinsip-prinsip yang sama – yaitu prinsip-prinsip
keadilan dan kemajuan; toleransi dan martabat semua umat manusia.

Saya mengakui bahwa perubahan tidak dapat terjadi dalam semalam.

Saya tahu sudah banyak pemberitaan mengenai pidato ini, tetapi tidak ada satu pidato tunggal yang mampu menghapus ketidakpercayaan yang terpupuk selama bertahun-tahun, dan saya pun tidak mampu dalam waktu yang saya miliki siang ini menjawab semua pertanyaan rumit yang
membawa kita ke titik ini.

Tapi saya percaya bahwa supaya kita bisa melangkah maju, kita harus secara terbuka mengatakan kepada satu sama lain hal-hal yang ada dalam hati kita, dan yang seringkali hanya
diungkapkan di belakang pintu tertutup. Harus ada upaya yang terus menerus dilakukan untuk mendengarkan satu sama lain; untuk belajar dari satu sama lain; untuk saling menghormati, dan untuk mencari persamaan.

Sebagaimana kitab suci Al Qur’an mengatakan, “Ingatlah kepada Allah dan
bicaralah selalu tentang kebenaran.” (Tepuk tangan.)

Ini yang saya akan coba lakukan hari ini – untuk berbicara tentang kebenaran sebaik kemampuan saya, dengan direndahkan hati oleh tugas di depan kita, dan dengan keyakinan bahwa kepentingan yang sama-sama kita miliki sebagai umat manusia jauh lebih kuat daripada kekuatan-kekuatan yang memisahkan kita.

Nah, sebagian dari keyakinan ini berakar dari pengalaman saya pribadi. Saya penganut Kristiani, tapi ayah saya berasal dari keluarga asal Kenya yang mencakup sejumlah generasi penganut Muslim. Sewaktu kecil, saya tinggal beberapa tahun di Indonesia dan mendengar lantunan adzan di
waktu subuh dan maghrib.

Ketika pemuda, saya bekerja di komunitas-komunitas kota Chicago yang banyak anggotanya menemukan martabat dan kedamaian dalam keimanan Islam mereka.

Sebagai pelajar sejarah, saya juga mengetahui peradaban berhutang besar terhadap Islam.

Adalah Islam – di tempat-tempat seperti Universitas Al-Azhar – yang mengusung lentera ilmu selama berabad-abad, dan membuka jalan bagi era Kebangkitan Kembali dan era Pencerahan di Eropa. Adalah inovasi dalam masyarakat Muslim – (tepuk tangan) — yang mengembangkan urutan aljabar; kompas magnet dan alat navigasi; keahlian dalam menggunakan pena dan percetakan; dan pemahaman mengenai penularan penyakit serta pengobatannya.

Budaya Islam telah memberikan kita gerbang-gerbang yang megah dan puncak-puncak menara yang menjunjung tinggi; puisi-puisi yang tak lekang oleh waktu dan musik yang
dihargai; kaligrafi yang anggun dan tempat-tempat untuk melakukan kontemplasi secara damai. Dan sepanjang sejarah, Islam telah menunjukkan melalui kata-kata dan perbuatan bahwa toleransi beragama dan persamaan ras adalah hal-hal yang mungkin. – (tepuk tangan)

Saya juga tahu bahwa Islam selalu menjadi bagian dari riwayat Amerika. Negara pertama yang mengakui negara saya adalah Maroko.

Saat menandatangani Perjanjian Tripoli pada tahun 1796, presiden kedua kami John Adams menulis, “Amerika Serikat tidaklah memiliki karakter bermusuhan dengan hukum, agama, maupun ketentraman umat Muslim.”

Dan sejak berdirinya negara kami, umat Muslim Amerika telah memperkaya Amerika Serikat. Mereka telah berjuang dalam perang-perang kami, bekerja dalam pemerintahan, memperjuangkan hak-hak sipil, mengajar di perguruan-perguruan tinggi kami, unggul dalam arena-arena
olah raga kami, memenangkan Hadiah Nobel, membangun gedung-gedung
kami yang tertinggi, dan menyalakan obor Olimpiade.

Dan ketika warga Muslim-Amerika pertama terpilih sebagai anggota Kongres belum lama ini,
ia mengambil sumpah untuk membela Konstitusi kami dengan menggunakan Al Quran yang disimpan oleh salah satu Bapak Pendiri kami – Thomas Jefferson – di perpustakaan pribadinya. (tepuk tangan).

Jadi saya telah mengenal Islam di tiga benua sebelum datang ke kawasan tempat agama ini pertama kali diturunkan. Pengalaman tersebut memandu keyakinan saya bahwa kemitraan antara Amerika dan Islam harus didasarkan pada apakah Islam itu, bukan pada apakah yang bukan Islam.

Dan saya menganggap ini adalah bagian dari tanggung jawab saya sebagai Presiden Amerika Serikat untuk memerangi stereotip negatif tentang Islam di mana pun munculnya. (tepuk tangan).

Tapi prinsip yang sama harus diterapkan pada persepsi tentang Amerika. (tepuk tangan) Seperti halnya umat Muslim tidak sesuai dengan stereotip yang mentah, Amerika juga bukan stereotip mentah tentang sebuah kerajaan yang hanya punya kepentingan sendiri.

Amerika Serikat telah menjadi salah satu sumber kemajuan terbesar yang dikenali dunia. Kami lahir akibat revolusi melawan sebuah kerajaan. Kami didirikan berdasarkan sebuah ide bahwa semua orang diciptakan sama, dan kami telah menumpahkan darah dan berjuang selama berabad-abad untuk memberikan arti kepada kata-kata tersebut – di dalam batas negara kami, dan di sekeliling dunia. Kami terbentuk oleh setiap budaya, yang datang dari setiap sudut bumi, dan berdedikasi pada sebuah konsep sederhana: E pluribus unum: “Dari banyak menjadi satu”.

capt.photo_1244115782172-3-0.jpg (391×409)

Banyak yang telah dikatakan mengenai fakta bahwa seorang Amerika keturunan Afrika dengan nama Barack Hussein Obama dapat terpilih sebagai presiden. (tepuk tangan).

Tapi kisah pribadi saya bukanlah sesuatu yang unik.

Mimpi akan kesempatan bagi semua belumlah terwujud bagi setiap orang di Amerika, tapi janji itu diberikan bagi semua yang datang ke pantai kami – termasuk hampir tujuh juta warga Muslim Amerika di negara kami saat ini yang memiliki pendapatan dan pendidikan lebih tinggi dari rata-rata. (tepuk tangan)

Lebih jauh lagi, kebebasan di Amerika tidaklah terpisahkan dari kebebasan memraktikkan agama. Itu sebabnya ada masjid di setiap negara bagian di negeri kami, dan ada lebih dari 1200 masjid di dalam batas negara kami. Itu sebabnya pemerintah Amerika telah maju ke pengadilan untuk membela hak wanita dan anak perempuan mengenakan hijab, dan untuk menghukum mereka yang mengingkarinya. (tepuk tangan). Jadi janganlah ada keraguan : Islam adalah bagian dari Amerika.

Dan saya percaya bahwa Amerika memegang kebenaran dalam dirinya bahwa terlepas dari ras, agama, dan posisi dalam hidup, kita semua memiliki aspirasi yang sama – untuk hidup dalam damai dan keamanan; untuk memperoleh pendidikan dan untuk bekerja dengan martabat; untuk
mengasihi keluarga kita, masyarakat kita, dan Tuhan kita. Ini adalah hal-hal yang sama-sama kita yakini. Ini adalah harapan dari semua kemanusiaan.

Tentu saja, mengenali persamaan kemanusiaan kita hanyalah awal dari tugas kita. Justru ini adalah sebuah awal. Kata-kata saja tidak dapat memenuhi kebutuhan rakyat kita. Kebutuhan-kebutuhan itu baru terpenuhi jika kita bertindak berani di tahun-tahun mendatang.

Dan kita harus bertindak dengan pemahaman bahwa tantangan-tantangan yang kita hadapi
adalah tantangan bersama, dan kegagalan kita mengatasinya akan merugikan
kita semua.

Karena kita telah belajar dari pengalaman baru-baru ini bahwa ketika sistem keuangan melemah di satu negara, kemakmuran di mana pun ikut dirugikan. Ketika jenis flu baru menulari satu orang, semua terkena risiko.

Ketika satu negara membangun senjata nuklir, risiko serangan nuklir bagi semua negara ikut naik. Ketika kelompok ekstrim keras beroperasi di satu rangkaian pegunungan, rakyat di seberang samudera pun ikut menghadapi bahaya. Dan ketika mereka yang tak bersalah di Bosnia dan Darfur dibantai, itu menjadi noda dalam nurani kita bersama. (tepuk tangan) Itulah artinya
berbagi dunia di abad ke-21.

Inilah tanggung jawab kita kepada satu sama lain sebagai umat manusia.

Dan ini adalah tanggung jawab yang sulit diemban. Karena sejarah manusia telah merekam berbagai bangsa dan suku yang mencoba menaklukkan satu sama lain demi kepentingan sendiri. Tapi di era baru ini, sikap seperti itu justru akan mengalahkan diri sendiri. Karena saling ketergantungan kita, setiap tatanan dunia yang mengangkat satu bangsa atau sekelompok orang lebih tinggi dari yang lain pada akhirnya akan gagal.

Jadi apa pun pikiran kita mengenai masa lalu, kita tidak boleh terperangkap olehnya. Masalah-masalah kita harus ditangani dengan kemitraan; kemajuan harus dibagi bersama. (tepuk tangan)

Nah, itu tidak berarti kita tidak mengindahkan sumber-sumber ketegangan. Justru yang disarankan adalah sebaliknya: kita harus menghadapi ketegangan-ketegangan ini secara langsung. Dan dalam semangat ini, saya akan berbicara sejelas dan segamblang mungkin mengenai isu-isu spesifik yang saya percaya akhirnya harus kita hadapi bersama.

Isu pertama yang harus kita hadapi adalah ekstrimisme keras dalam semua wujudnya.

Di Ankara, saya telah menjelaskan bahwa Amerika tidak sedang – dan tidak akan pernah – berperang dengan Islam. (tepuk tangan) Kami akan, meski demikian, tak lelah-lelahnya melawan kelompok ekstrim keras yang mengancam serius keamanan kami. Karena kami menolak apa yang juga ditolak oleh semua orang beragama: yaitu pembunuhan laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang tidak bersalah.

Dan adalah tugas saya yang pertama sebagai Presiden untuk melindungi rakyat Amerika.

Situasi di Afghanistan mendemonstrasikan sasaran-sasaran Amerika dan kebutuhan kita untuk bekerja sama. Lebih tujuh tahun lalu, Amerika Serikat mengejar Al Qaida dan Taliban dengan dukungan internasional yang luas. Kami tidak melakukannya karena ada pilihan, kami melakukannya karena perlu.

Saya sadar bahwa sejumlah orang mempertanyakan atau membenarkan peristiwa serangan 11 September.

Go to fullsize imageGo to fullsize imageGo to fullsize imageGo to fullsize image


Tapi mari kita perjelas: Al Qaida membunuh hampir 3000 orang pada hari itu. Para korban adalah kaum pria, wanita, dan anak-anak yang tidak bersalah dari Amerika dan
banyak negara lain yang tidak berbuat apa-apa untuk melukai orang lain.

Tapi Al Qaida memilih untuk dengan kejam membunuh mereka, mengklaim pujian atas serangan tersebut, dan bahkan sekarang menyatakan tekad mereka untuk membunuh lagi dalam skala sangat besar. Mereka memiliki kaki tangan di banyak negara dan sedang mencoba untuk
memperluas jangkauan mereka.

Ini bukan opini yang dapat diperdebatkan; ini adalah fakta yang harus dihadapi.

Janganlah salah paham: kami tidak menginginkan tentara kami di Afghanistan. Kami tidak berencana mendirikan basis militer di sana. Sangat menyakitkan bagi Amerika untuk kehilangan nyawa banyak warga pria dan wanita kami.

Adalah mahal dan sulit secara politik untuk melanjutkan konflik ini. Kami dengan senang hati akan memulangkan setiap tentara kami jika kami bisa yakin bahwa tidak ada kaum ekstrimis keras di
Afghanistan dan Pakistan yang bertekad membunuh sebanyak mungkin orang Amerika sebisa mereka. Tetapi hal itu tidak bukanlah kenyataan yang ada sekarang. Itulah sebabnya kami bermitra dengan koalisi 46 negara.

Dan meski biayanya besar, niat Amerika tidak akan melemah. Tak satu pun dari kita yang seharusnya mentoleransi kaum ekstrimis seperti ini. Mereka telah membunuh di banyak negara. Mereka telah membunuh orang dari beragam agama – lebih dari yang lain, mereka telah membunuh umat Muslim.

Tindakan-tindakan mereka sangat bertentangan dengan hak umat manusia, kemajuan bangsa-bangsa, dan dengan Islam.

Kitab suci Al Quran mengajarkan bahwa siapa yang membunuh orang tak bersalah, maka ia
seperti telah membunuh semua umat manusia; dan siapa yang menyelamatkan satu orang; maka ia telah menyelamatkan semua umat manusia. (tepuk tangan) Iman indah yang diyakini oleh lebih semiliar orang sungguh lebih besar daripada kebencian sempit sekelompok orang. Islam bukanlah bagian dari masalah dalam memerangi ekstrimisme keras – Islam haruslah menjadi bagian penting dari penggalakkan perdamaian.

Kami juga tahu bahwa kekuatan militer saja tidak akan memecahkan masalah di Afghanistan dan Pakistan. Itu sebabnya kami berencana untuk menanam investasi sebesar 1,5 miliar dolar setiap tahun selama lima tahun ke depan untuk bermitra dengan warga Pakistan membangun sekolah,
rumah sakit, jalan-jalan, dan usaha, dan ratusan juta untuk membantu mereka yang telah kehilangan tempat tinggal.

Dan itu sebabnya kami menyediakan lebih dari 2.8 miliar dolar untuk membantu rakyat
Afghanistan membangun ekonomi mereka dan menyediakan jasa-jasa yang
dibutuhkan masyarakat.

Kini saya akan berbicara tentang masalah Irak. Tidak seperti Afghanistan, Irak adalah perang karena pilihan yang telah menimbulkan perbedaan-perbedaan kuat di negara saya dan di dunia. Meski saya percaya bahwa rakyat Irak pada akhirnya lebih baik tanpa tirani Saddam Hussein, saya juga percaya bahwa peristiwa-peristiwa di Irak telah mengingatkan Amerika tentang perlunya menggunakan diplomasi dan membangun konsensus untuk mengatasi masalah-masalah kita kapan pun memungkinkan. (tepuk tangan).

Kita bahkan dapat mengingat kata-kata salah satu presiden terbesar kami, Thomas Jefferson, yang mengatakan: “Saya berharap kebijakan kita akan bertambah sejalan dengan kekuatan kita,
dan mengajarkan kita bahwa semakin sedikit kita menggunakan kekuatan,
justru semakin besar kekuatan itu.”

Hari ini
Amerika memiliki dua tanggung jawab: yaitu untuk membantu Irak membangun masa depan yang lebih baik, dan untuk menyerahkan Irak ke tangan rakyat Irak. (tepuk tangan) Saya telah
menjelaskan kepada warga Irak bahwa kami tidak berencana mendirikan basis di sana, dan tidak mengklaim baik teritori maupun sumber daya mereka. Kedaulatan Irak ada di tangan mereka sendiri.

Itu sebabnya saya memerintahkan pencabutan brigade-brigade tempur kami sampai bulan Agustus mendatang. Itu sebabnya kami akan menghormati kesepakatan kami dengan pemerintah Irak yang terpilih secara demokratis untuk menarik pasukan tempur dari kota-kota Irak pada Juli mendatang, dan untuk memulangkan semua tentara kami dari Irak pada tahun 2012. Kami akan
membantu Irak melatih Tentara Keamanan dan membangun ekonominya.

Tapi kami akan mendukung Irak yang aman dan bersatu sebagai mitra, dan tidak pernah sebagai pelindung. Dan akhirnya, seperti halnya Amerika tidak pernah bisa mentoleransi kekerasan oleh kaum ekstrimis, kami tidak pernah boleh mengompromikan prinsip-prinsip kami. Serangan 11 September adalah trauma besar bagi negara kami. Rasa takut dan marah yang muncul karenanya bisa dipahami, tapi dalam sejumlah kasus, itu telah membuat kami bertindak berlawanan dengan pemikiran-pemikiran kami. Kami sedang mengambil langkahlangkah konkret untuk mengubah arah.

Saya telah sepenuhnya melarang praktik penyiksaan oleh Amerika Serikat, dan saya telah memerintahkan penutupan penjara di Teluk Guantanamo awal tahun depan.

Jadi Amerika akan membela diri, dengan menghormati kedaulatan bangsa-bangsa dan aturan hukum. Dan kami akan melakukannya dalam kemitraan dengan masyarakat-masyarakat Muslim yang juga terancam. Semakin cepat kaum ekstrimis diisolasi dan diusir dari dalam masyarakatmasyarakat Muslim, semakin cepat kita semua akan menjadi selamat.

Sumber ketegangan besar yang kedua yang perlu kita diskusikan adalah situasi antara warga Israel, Palestina, dan dunia Arab. Ikatan yang kuat antara Amerika dan Israel telah banyak diketahui. Ikatan ini tidak dapat dipatahkan. Ini lahir berdasarkan ikatan budaya dan
sejarah, serta pengakuan bahwa aspirasi atas sebuah tanah air Yahudi berakar dari sebuah sejarah tragis yang tidak bisa diingkari. Di seantero dunia, kaum Yahudi telah ditindas selama berabad-abad, dan anti-Semitisme di Eropa memuncak dalam peristiwa Holocaust yang
tidak pernah ada sebelumnya.

Besok saya akan mengunjungi Buchenwald yang menjadi bagian dari jaringan kamp-kamp tempat kaum Yahudi diperbudak, disiksa, ditembak, dan digas hingga tewas oleh Third Reich. Enam juta orang Yahudi terbunuh – lebih banyak dari seluruh populasi Yahudi di Israel hari ini. Mengingkari fakta tersebut adalah tidak berdasar, bodoh, dan penuh kebencian. Mengancam Israel dengan penghancuran – atau mengulangi stereotip keji tentang umat Yahudi – sungguh sangat salah
dan hanya akan membangkitkan kembali ingatan yang terperih di benak umat Yahudi sembari mencegah perdamaian yang patut dimiliki rakyat di kawasan ini.

Di sisi lain, tidak bisa diingkari bahwa rakyat Palestina – baik yang Muslim maupun yang Kristen – telah menderita dalam perjuangan memperoleh tanah air. Lebih dari enam puluh tahun, mereka telah merasakan sakitnya tidak memiliki tempat tinggal. Banyak yang menunggu di kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat, Gaza, dan tanah-tanah tetangga untuk sebuah kehidupan yang damai dan aman yang belum pernah mereka jalani.

Mereka menerima hinaan setiap hari – besar dan kecil – yang hadir bersama pendudukan. Jadi janganlah ada keraguan: situasi yang dihadapi rakyat Palestina tidaklah dapat ditoleransi. Amerika tidak akan bersikap tidak acuh terhadap aspirasi sah Palestina atas martabat, kesempatan, dan
sebuah negara milik mereka sendiri. (tepuk tangan)

Selama beberapa dekade, yang ada hanyalah jalan buntu: Dua rakyat dengan aspirasi yang sah, masing-masing memiliki sejarah menyakitkan yang membu
at kompromi sulit dilakukan. Adalah mudah untuk menuding – rakyat Palestina menuding hilangnya tempat tinggal akibat berdirinya negara Israel, dan rakyat Israel menuding permusuhan yang terus menerus dan serangan dari dalam batas negaranya sendiri dan dari luar sepanjang sejarah negara tersebut.

Tapi jika kita melihat konflik ini hanya dari satu sisi mana pun, maka kita akan dibutakan dari kebenaran: satu-satunya resolusi adalah aspirasi kedua pihak diwujudkan melalui dua negara, di mana rakyat Israel dan Palestina masing-masing hidup dalam damai dan keamanan. (tepuk tangan)

Ini adalah kepentingan Israel, kepentingan Palestina, dan kepentingan Amerika. Itu sebabnya saya berniat untuk secara pribadi mengejar hasil ini, dengan segala kesabaran yang dituntut oleh tugas ini. (tepuk tangan)

Kewajiban-kewajiban yang telah disepakati pihak-pihak menurut Peta Jalan telah jelas. Supaya perdamaian terwujud, waktunya bagi mereka – dan bagi kita semua – untuk melakukan tanggung jawab kita.

Warga Palestina harus meninggalkan kekerasan. Perlawanan lewat kekerasan dan pembunuhan adalah salah dan tidak akan berhasil. Selama berabad-abad, rakyat kulit hitam di Amerika menderita hentakan pecut sebagai budak dan penghinaan akibat pemisahan berdasarkan warna kulit.

Tetapi bukan kekerasan yang memenangkan hak-hak persamaan sepenuhnya.

Sebuah tuntutan damai namun penuh tekad bagi realisasi kondisi ideal yang merupakan inti dari pendirian Amerika. Kisah sama ini juga diceritakan oleh rakyat mulai dari Afrika Selatan sampai Asia Selatan; dari Eropa Timur sampai Indonesia.

Sebuah kisah yang mengandung kebenaran yang sederhana: bahwa kekerasan merupakan sebuah jalan buntu.Bukanlah sebuah tanda keberanian atau kekuasaan kalau menembak roket ke
anak-anak yang sedang tidur, atau meledakkan perempuan tua di dalam bis.

Itu bukanlah cara untuk mengklaim moralitas; namun itu merupakan cara untuk menghilangkannya.
Kini waktunya untuk warga Palestina memusatkan perhatian kepada apa yang bisa mereka bangun. Penguasa Palestina harus mengembangkan kemampuan untuk memerintah, dengan institusi yang melayani kebutuhan rakyatnya. Hamas memiliki dukungan di sebagian kalangan rakyat Palestina, tetapi mereka juga punya tanggung jawab. Guna memainkan peran yang memenuhi aspirasi rakyat Palestina, dan untuk mempersatukan rakyat Palestina, Hamas harus mengakhiri kekerasan, menghormati persetujuan di masa lalu dan mengakui hak eksistensi Israel.

Secara bersamaan, rakyat Israel harus mengakui bahwa sebagaimana hak Israel untuk eksis tidak bisa dibantah, demikian pula halnya dengan hak Palestina. Amerika Serikat tidak menerima keabsahan dari mereka yang berniat melenyapkan Israel ke dalam laut, tetapi kami juga tidak menerima keabsahan dari penerusan pembangunan pemukiman (tepuk tangan)
Yahudi.

Pekerjaan konstruksi ini melanggar persetujuan sebelumnya dan melemahkan usaha mencapai perdamaian. Sudah tiba waktunya pembangunan pemukiman ini dihentikan. (tepuk tangan)
Israel harus memenuhi kewajibannya untuk memastikan rakyat Palestina bisa hidup dan bekerja serta membangun masyarakat mereka. Selain menghancurkan banyak keluarga Palestina, terus berlangsungnya krisis kemanusiaan di Gaza juga tidak memperkuat keamanan Israel; begitu
pula halnya dengan terus berlangsungnya kelangkaan peluang di Tepi Barat.

Kemajuan dalam kehidupan sehari-hari rakyat Palestina harus menjadi bagian dari peta jalan menuju perdamaian, dan Israel harus mengambil langkah-langkah konkrit untuk memberdayakan kemajuan semacam itu.

Akhirnya, Negara-Negara Arab harus menyadari bahwa Inisiatif Perdamaian Arab merupakan awal yang penting, tetapi bukan akhir dari tanggung jawab mereka. Konflik Arab – Israel tidak bisa lagi dipakai untuk mengalihkan perhatian rakyat negara-negara Arab dari masalah-masalah
lainnya.

Sebaliknya, konflik itu harus menjadi penggerak untuk membantu rakyat Palestina mengembangkan institusi yang akan melanggengkan negara mereka; mengakui hak Israel; serta memilih kemajuan ketimbang fokus pada masa lalu yang begitu melemahkan.

Amerika akan menyesuaikan kebijakannya dengan mereka yang memperjuangkan perdamaian dan mengatakan secara terbuka apa yang kami katakan secara pribadi kepada warga Israel, Palestina, dan Negara-Negara Arab. (tepuk tangan)

Kita tidak bisa memaksakan perdamaian.

Tetapi secara pribadi, banyak orang Muslim menyadari bahwa Israel tidak akan lenyap; juga banyak orang Israel menyadari perlunya kehadiran sebuah negara Palestina. Waktunya sudah tiba bagi kita untuk bertindak berdasarkan apa yang oleh setiap orang diketahui merupakan hal yang
benar.

Terlalu banyak air mata sudah diteteskan. Terlalu banyak darah sudah ditumpahkan.

Kita semua memiliki tanggung jawab untuk berjuang menciptakan sebuah masa dimana para ibu Israel dan Palestina bisa menyaksikan anak-anak mereka tumbuh tanpa ketakutan; masa dimana
Tanah Suci dari ketiga agama besar merupakan tempat perdamaian yang diinginkan Allah; masa dimana Jerusalem merupakan tempat tinggal aman dan langgeng bagi orang Yahudi dan Kristen dan Muslim, dan merupakan sebuah tempat untuk semua keturunan Abraham hidup bersama secara damai sebagaimana dikisahkan dalam ISRA, ketika Musa, Yesus dan Muhammad (damai bersama mereka) bergabung dalam ibadah doa. (tepuk tangan)

Sumber ketegangan ketiga adalah kepentingan kita bersama sehubungan hak-hak dan tanggung jawab negara-negara atas senjata nuklir. Isu ini menjadi sumber ketegangan baru-baru ini antara Amerika dan Republik Islam Iran.

Selama bertahun-tahun, Iran mendefinisikan dirinya sebagian lewat oposisinya terhadap negara saya, dan memang ada sejarah yang kacau di antara kami. Di tengah-tengah Perang Dingin, Amerika memainkan peran dalam penggulingan pemerintah Iran yang terpilih secara
demokratik. Sejak Revolusi Islam, Iran telah memainkan peran dalam tindak penyanderaan dan kekerasan terhadap pasukan dan warga sipil Amerika.

Sejarah ini diketahui secara luas. Daripada terperangkap dalam masa lalu, saya telah menjelaskan kepada para pemimpin dan rakyat Iran bahwa negara saya siap untuk melangkah maju. Pertanyaannya kini, bukanlah apa yang ditentang Iran, tetapi masa depan apa yang ingin dibangunnya.

Sulit untuk mengatasi puluhan tahun ketidakpercayaan, tetapi kami akan maju dengan keberanian, kebenaran dan tekad. Banyak isu yang harus dibahas oleh kedua negara kita, dan kami siap melangkah maju tanpa prasyarat namun didasarkan pada
sikap saling menghormati.

Tetapi jelas bagi semua pihak yang berkepentingan bahwa dalam soal senjata nuklir kita telah mencapai titik yang menentukan. Ini bukan sekedar terkait kepentingan Amerika, ini berhubungan dengan pencegahan perlombaan senjata nuklir yang bisa menyebabkan wilayah ini terjerumus ke dalam jalur sangat berbahaya dan menghancurkan tatanan non-proliferasi global.

Saya memahami mereka yang memprotes bahwa beberapa negara memiliki senjata sementara yang lainnya tidak. Tak satupun negara bisa menentukan negara-negara mana yang boleh memiliki senjata nuklir. Itulah sebabnya saya secara kuat mempertegas komitmen Amerika untuk mengusahakan sebuah dunia di mana tak satu pun negara memiliki senjata
nuklir. (tepuk tangan)

Dan setiap negara – termasuk Iran – harus punya akses ke energi nuklir untuk tujuan damai apabila ia patuh pada tanggung jawabnya dibawah Persetujuan Non-Proliferasi Nuklir. Komitmen itu
merupakan inti dari Persetujuan itu, dan harus diberikan kepada semua pihak yang mematuhinya.
Isu keempat yang akan saya tanggapi adalah demokrasi. (tepuk tangan).

Saya percaya pada sebuah sistem pemerintahan yang memberi hak bersuara kepada rakyatnya, dan yang menghormati penegakan hukum serta hak untuk semua manusia.

Saya tahu bahwa ada kontroversi tentang penggalakkan demokrasi dalam tahun-tahun terakhir ini, dan sebagian dari kontroversi ini terkait dengan perang di Irak.

Saya perjelas: sistem pemerintahan apa pun tidak bisa dipaksakan kepada sebuah negara oleh
negara lainnya. Tetapi hal itu tidak mengurangi komitmen saya kepada negara-negara
yang mencerminkan keinginan rakyatnya. Setiap negara menghidupkan prinsip-prinsipnya dengan caranya sendiri, yang berasal dari tradisi rakyatnya. Amerika tidak berpretensi tahu apa yang terbaik untuk semua orang, sebagaimana juga kami tidak berpretensi bahwa kami bisa
menentukan hasil dari sebuah pemilihan damai.

Tetapi saya memiliki keyakinan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi bahwa semua orang merindukan hal-hal tertentu: Kemampuan untuk mengungkapkan pendapat dan ikut menentukan bagaimana bentuk pemerintahan; mempercayai penegakan hukum dan penyelenggaraan keadilan yang sama untuk setiap orang; pemerintahan yang transparan dan tidak mencuri dari rakyatnya; kebebasan untuk hidup sesuai pilihan masing-masing. Itu bukan sekedar ide-ide Amerika, itu adalah hak asasi manusia dan oleh karena itu kami akan mendukungnya di mana saja.

Tak ada garis lurus untuk menciptakan janji itu.

Tetapi yang jelas adalah: pemerintahan-pemerintahan yang melindungi hak-hak ini pada akhirnya akan lebih stabil, sukses dan aman.Tak ada garis lurus untuk menciptakan janji itu.Tetapi yang jelas adalah: Memberangus ide-ide tidak pernah berhasil melenyapkannya. Amerika menghormati hak-hak dari semua suara damai dan patuh hukum agar didengar di seluruh dunia meskipun kita tidak sepakat dengan mereka.

Dan kami menyambut gembira semua pemerintahan terpilih dan damai – asalkan mereka memerintah dengan menghormati rakyatnya.

Dimanapun kekuasaan itu berada, pemerintahan dari rakyat dan untuk rakyat merupakan standar tunggal untuk semua fihak yang memegan
g kekuasaan,

Butir ini penting karena ada yang memperjuangkan demokrasi hanya pada saat mereka tidak berkuasa; setelah berkuasa, mereka secara keji memberangus hak-hak orang lain. (tepuk tangan)

Di manapun kekuasaan itu berada, pemerintahan dari rakyat dan untuk rakyat merupakan standar
tunggal untuk semua pihak yang memegang kekuasaan. anda harus mempertahankan kekuasaan lewat konsensus, bukan pemaksaan; anda harus menghormati hak-hak minoritas, dan berpartisipasi dalam semangat toleransi dan kompromi, anda harus mendahulukan kepentingan rakyat anda dan usaha sah dari proses politik di atas kepentingan partai. Tanpa ramuan ini pemilihan saja tidak akan menciptakan demokrasi yang murni.

capt.3e18c96c235d4e7eaaf7d7eff9fc32e6.us_egypt_mideast_obama_egym116.jpg (409×225)

ANGGOTA HADIRIN: Barack Obama, kami cinta anda!

PRESIDEN OBAMA: Terima kasih. (tepuk tangan)

Isu kelima yang harus kita tanggapi bersama adalah kebebasan beragama. Islam memiliki sebuah tradisi toleransi yang patut dibanggakan. Kita menyaksikan hal ini dalam sejarah Andalusia dan Kordoba.

Saya menyaksikan hal itu langsung ketika masih kanak-kanak di Indonesia, di mana warga Kristen yang saleh bebas beribadah di sebuah negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Itulah semangat yang kita butuhkan kini.

Orang di setiap negara harus bebas memilih dan menjalankan keyakinan mereka berdasarkan keyakinan pikiran, hati dan jiwa. Toleransi ini penting agar agama bisa berkembang, tetapi juga ditantang dengan berbagai cara.

Di kalangan Muslim tertentu ada kecenderungan yang merisaukan, yakni mengukur kedalaman keyakinan diri sendiri lewat penolakan keyakinan orang lain. Kebhinekaan agama yang memperkaya harus ditegakkan – apakah itu kelompok Maronit di Lebanon atau Koptik di
Mesir. (tepuk tangan)

Dan garis pemisah juga harus dihilangkan di antara warga Muslim, sebagaimana perpecahan antara Sunni dan Syiah telah mengakibatkan kekerasan yang tragis, khususnya di Irak.
Kebebasan beragama penting bagi kemampuan rakyat hidup bersama. Kita harus senantiasa menelaah cara-cara yang kita pakai untuk melindunginya. Misalnya, di Amerika Serikat, peraturan sumbangan amal telah mempersulit warga Muslim untuk memenuhi kewajiban agama
mereka.

Itulah sebabnya saya bertekad untuk bekerja sama dengan warga Muslim Amerika guna memastikan mereka bisa memenuhi zakat. Juga penting agar negara-negara Barat mencegah larangan kepada warganegara Muslim untuk mempraktikkan agama sesuai kehendak mereka
– misalnya, dengan mendikte pakaian apa yang boleh dikenakan seorang
perempuan Muslim.

Sederhananya, kita tidak bisa menyembunyikan ketidaksenangan terhadap agama apapun lewat alasan liberalisme. Keyakinan seharusnya mempersatukan kita. Itulah sebabnya kami mengikhtiarkan proyek-proyek di Amerika yang mempertemukan warga Kristen, Muslim dan Yahudi. Itulah sebabnya kami menyambut gembira usaha dialog Antar Agama Raja Abdullah dan kepemimpinan Turki dalam Aliansi Keberadaban. Di seluruh dunia kita bisa memanfaatkan dialog
menjadi pelayanan Antar Keyakinan, sehingga jembatan di antara berbagai rakyat mengarah pada tindakan – apakah itu berupa perang melawan malaria di Afrika atau menyediakan bantuan bencana alam.

Isu keenam yang ingin saya tanggapi adalah hak-hak perempuan. Saya tahu ada perdebatan tentang isu ini. Saya menolak pandangan beberapa pihak di Barat bahwa perempuan yang memilih untuk menutupi rambutnya seakan-akan tidak memiliki persamaan hak, tetapi saya juga
berpendapat bahwa seorang perempuan yang tidak bisa menikmati pendidikan tidak diberi kesamaan hak.

Dan bukan kebetulan bahwa negaranegara di mana kaum perempuannya terdidik secara baik juga makmur.

Saya perjelas: isu-isu mengenai persamaan hak perempuan bukan semata-mata merupakan isu untuk Islam. Di Turki, Pakistan, Bangladesh dan Indonesia, kita saksikan di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim, mereka memilih seorang perempuan untuk memimpin.

Sementara itu, perjuangan bagi persamaan hak perempuan masih terus merupakan aspek dalam kehidupan di Amerika, dan di negara-negara di seluruh dunia.

Itulah sebabnya Amerika akan bermitra dengan setiap negara yang mayoritas penduduknya Muslim guna mendukung perluasan pemberantasan buta huruf untuk perempuan, dan membantu perempuan muda memperjuangkan pekerjaan lewat pinjaman untuk usaha kecil yang membantu rakyat merealisasikan cita-cita mereka.

Saya yakin putri-putri kita bisa menyumbang kepada masyarakat setara seperti putra-putra kita, (tepuk tangan) dan kemakmuran kita bersama bisa dimajukan dengan memberi kesempatan kepada semua orang – laki-laki dan perempuan – mencapai potensi mereka sepenuhnya. Saya
berpendapat perempuan tidak harus membuat pilihan sama seperti laki-laki agar mencapai kesamaan, dan saya menghormati perempuan yang memilih peran tradisional dalam menjalankan kehidupan mereka.

Tetapi hal itu haruslah merupakan pilihan mereka sendiri.

Akhirnya, saya ingin membahas pembangunan ekonomi dan kesempatan. Saya tahu untuk banyak kalangan, wajah globalisasi bertentangan.

Internet dan televisi bisa mengantarkan pengetahuan dan informasi, tetapi juga seksualitas yang bersifat ofensif dan kekerasan tak berperikemanusiaan.

Perdagangan bisa menciptakan kekayaan dan peluang baru, tetapi juga gangguan dan perubahan di masyarakat. Di semua negara – termasuk negara saya – perubahan ini bisa menyebabkan ketakutan.

Ketakutan karena akibat modernitas kita kehilangan kendali atas pilihan ekonomi kita, politik kita dan yang terpenting, identitas kita – hal-hal yang paling kita hargai dari masyarakat kita, keluarga kita, tradisi kita dan keyakinan kita.

Tetapi saya juga tahu kemajuan manusia tidak bisa ditampik. Tidak perlu ada kontradiksi antara pembangunan dan tradisi. Negara seperti Jepang dan Korea Selatan membina ekonomi mereka sambil tetap mempertahankan budaya mereka. Hal yang sama juga berlaku pada kemajuan mengagumkan dalam Islam mulai dari Kuala Lumpur sampai ke Dubai.

Di masa kuno dan di masa kita, masyarakat Muslim membuktikan bahwa mereka mampu berada di garis depan inovasi dan pendidikan. Ini penting karena tak ada strategi pembangunan yang semata-mata didasarkan pada apa yang dihasilkan tanah, dan strategi pembangunan juga tidak bisa dipertahankan kalau generasi mudanya tidak memiliki pekerjaan.

Banyak Negara Teluk menikmati kekayaan sebagai akibat penghasilan minyaknya, dan beberapa sudah mulai memusatkan perhatian pada pembangunan yang lebih luas. Tetapi kita semua harus menyadari bahwa pendidikan dan inovasi akan menjadi faktor penentu dari abad ke 21.
(tepuk tangan) dan di banyak masyarakat Muslim masih kekurangan
investasi dalam bidang-bidang ini.

Saya tekankan hal itu di negara saya. Dan sementara Amerika di masa lalu memusatkan perhatian pada minyak dan gas alam di bagian dunia ini, kami kini menghendaki hubungan yang
lebih luas. Dalam pendidikan, kami akan memperluas program pertukaran dan memperbanyak bea siswa, seperti yang mengantar ayah saya ke Amerika, sementara juga mendorong lebih banyak warga Amerika untuk belajar di tengah masyarakat Muslim.

Dan kami akan menempatkan siswa-siswa Muslim yang menjanjikan di tempat-tempat magang di Amerika; melakukan investasi dalam pembelajaran online untuk guru-guru dan anak-anak di
seluruh dunia; dan menciptakan jaringan online baru, sehingga seorang remaja di Kansas mampu berkomunikasi langsung dengan remaja di Kairo.

Dalam rangka pembangunan ekonomi, kami akan menciptakan sebuah korps relawan bisnis baru untuk bermitra dengan counterpartnya di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Dan saya akan menyelenggarakan KTT Kewiraswastaan tahun ini untuk mengidentifikasi bagaimana kita bisa mempererat hubungan antara pemimpin bisnis, yayasan dan wiraswasta sosial di Amerika dan masyarakat Muslim di seluruh dunia.

Dalam bidang sains dan teknologi, kami akan meluncurkan sebuah dana baru untuk mendukung pembangunan teknologi di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim, dan membantu mentransfer ide-ide ke pasar-pasar sehingga tercipta lapangan pekerjaan. Kami akan membuka
pusat keunggulan sains di Afrika, Timur Tengah dan Asia Tenggara serta mengangkat Utusan Sains baru untuk bekerja sama dalam program-program yang mengembangkan sumber energi baru, menciptakan lapangan pekerjaan hijau, digitalisasi catatan, air bersih dan menumbuhkan tanaman panen baru.

Dan hari ini saya mengumumkan sebuah usaha global baru bersama Organisasi Konferensi Islam guna memberantas polio. Dan kita juga akan memperluas kemitraan dengan masyarakat Muslim guna menggalakkan kesehatan anak dan ibu.

Semua ini harus dilakukan lewat kemitraan. Rakyat Amerika siap bergabung dengan warganegara dan pemerintahan; organisasi kemasyarakatan, pemimpin agama dan bisnis di masyarakat Muslim diseluruh dunia guna membantu rakyat kita memperjuangkan kehidupan
yang lebih baik.

Isu-isu yang telah saya uraikan tidak mudah ditanggapi. Tetapi kita punya tanggung jawab untuk bergabung demi memperjuangkan dunia yang kita cita-citakan – sebuah dunia di mana ekstremis tidak lagi mengancam rakyat kita, dan pasukan Amerika bisa pulang; sebuah dunia di mana rakyat
Israel dan Palestina masing-masing memiliki negara mereka sendiri yang aman, dan energi nuklir dipergunakan untuk tujuan damai; sebuah dunia di mana pemerintahan melayani warganegaranya serta hak-hak dari semua umat Allah dihormati. Ini merupakan kepentingan bersama. Itulah dunia
yang kita cita-citakan, tetapi hal itu hanya kita bisa capai bersama.

Saya tahu ada banyak – Muslim dan non-Muslim – yang mempertanyakan apakah kita bisa membina permulaan baru ini. Beberapa ingin menghasut api perpecahan, dan menghalangi kemajuan. Beberapa mengatakan hal ini tidak ada gunanya – bahwa kita sudah ditakdirkan untuk
berseteru dan berbagai peradaban ditakdirkan beradu.

Banyak lagi yang sekedar skeptis bahwa perubahan nyata bisa terselenggara. Begitu banyak
ketakutan, begitu banyak ketidak percayaan. Tetapi kalau kita memilih untuk terperangkap dalam masa lalu maka kita tidak pernah akan melangkah maju. Dan saya secara khusus ingin mengatakan kepada generasi muda dari setiap kepercayaan, di setiap negara – anda, lebih dari orang lain, memiliki kemampuan untuk menata kembali dunia, menyusun kembali dunia.

Kita semua menghuni dunia ini untuk waktu yang singkat.

Pertanyaannya adalah apakah kita melewatkan waktu itu terpusat pada halhal yang memecah belah kita, atau apakah kita mendedikasikan diri pada usaha – usaha berkesinambungan – untuk mencapai kesamaan, memusatkan perhatian pada masa depan bagi anak-anak kita dan menghargai harga diri semua insan manusia.

Hal-hal ini tidaklah mudah. Lebih mudah memulai perang ketimbang menghentikannya. Lebih mudah menuduh pihak lain ketimbang melakukan introspeksi diri; untuk melihat apa yang berbeda pada diri seseorang ketimbang menemukan kesamaan kita. Tetapi ada pula sebuah aturan yang
merupakan inti setiap agama – bahwa kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh mereka. Kebenaran ini berlaku lintas negara dan lintas rakyat – sebuah keyakinan yang tidak baru, yang tidak hitam atau putih atau coklat; bukan kebenaran Kristen, atau Muslim atau Yahudi. Ini merupakan keyakinan yang berdetak dalam dari buaian keberadaban, dan masih tetap berdetak dalam jantung miliaran manusia. Ini merupakan rasa percaya pada orang lain, dan hal itulah yang membawa saya kesini hari ini.

Kita memiliki kekuatan untuk menciptakan dunia yang kita citacitakan, tetapi hanya apabila kita punya keberanian untuk memasuki awal yang baru, sambil ingat pada apa yang tertulis.
ALKitab Suci Al Quran mengatakan kepada kita, “Wahai manusia! Sesungguhnya kami telah ciptakan kamu sekalian dari jenis laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersukusuku agar kamu saling kenal mengenal…”

Talmud mengatakan kepada kita: “Seluruh Torah adalah untuk maksud menggalakkan perdamaian.”

Kitab Suci Injil mengatakan pada kita, “Diberkatilah pencipta perdamaian, karena mereka akan disebut putra-putra Allah.” (tepuk tangan)

Rakyat seluruh dunia bisa hidup bersama dalam damai. Kita tahu itu merupakan visi Allah. Kini, itu menjadi kewajiban kita di Dunia.

Terima kasih. Dan semoga damai Allah bersama anda. Terima kasih banyak. Terima kasih (tepuk tangan)


Pukul 2:05 siang (waktu setempat)

Meminjam Sebuah Judul Lagu Untuk Berkata Kepada Benjamin Netanyahu Dan Israel, “SUARA, DENGARKANLAH AKU !”


Simon Peres & Benjamin Netanyahu

TULISAN UTAMA DI WWW.KATAKAMI.COM
Dimuat juga di WWW.KATAKAMIINDONESIA.WORDPRESS.COM

Jakarta 15/6/2009 (KATAKAMI) Pekan lalu, saat kami memuat tulisan “Menanti Sang Prajurit Komando Bernama BENJAMIN NETANYAHU Menepati Janjinya Mewujudkan Perdamaian & Keamanan” yang merespon janji Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa dirinya akan berkomitmen tinggi mewujudkan perdamaian dan keamanan, kami mendapatkan begitu banyak respon yang positif dan semua bermuara pada satu hal yaitu agar Benjamin Netanyahu dan Israel sungguh membuka hati dalam merealisasikan “janji atau komitmen” mewujudkan perdamaian dan keamanan itu, dalam konteks dengan Palestina.

Salah respon yang kami terima adalah dari anggota Komisi I DPR-RI Jeffrey Massey dari Fraksi Partai Damai Sejahtera, yang sunggu berkeyakinan bahwa Benjamin Netanyahu akan menepati janji itu. Namun, seraya berharap juga agar HAMAS tidak terus menerus melakukan provokasi yang bisa membuyarkan upaya dan kesungguhan hati semua pihak untuk merealisasikan perdamaian dan keamanan tersebut.

Berhari-hari menunggu seperti apa sebenarnya visi dan misi Benjamin Netanyahu tentang “potret perdamaian dan keamanan” yang akan dengan kesungguhan hati diwujudkannya disaat ia memangku sebuah jabatan yang sangat prestisius di Israel, akhirnya rasa penasaran itu terjawab.

Minggu 14 Juni 2009 (waktu setempat). Benjamin Netanyahu menyampaikan pidatonya di “Begin-Sadat (BESA) Center for Strategic Studies, Bar-Ilan University, Israel”.

Salah satu bagian dari pidato itu berbunyi sebagai berikut, :In my vision of peace, two peoples live freely, side-by-side, in amity and mutual respect. Each will have its own flag, its own national anthem, its own government”.

Kemudian di bagian penutup pidato itu berbunyi, “I call on the leaders of the Arab world and on the Palestinian leadership, let us continue together on the path of Menahem Begin and Anwar Sadat, Yitzhak Rabin and King Hussein. Let us realize the vision of the prophet Isaiah, who in Jerusalem 2700 years ago said: “nations shall not lift up sword against nation, and they shall learn war no more. With God’s help, we will know no more war. We will know peace”.

Bendera Israel & Palestina

Ya betul, dengan pertolongan Tuhan — tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan — seharusnya memang tak perlu lagi ada PEPERANGAN !

Bahkan Tuhan sendiripun, dengan segala keagungan dan kemuliaan-Nya, pastilah sudah sangat lama menunggu agar umat kesayangan-Nya sungguh mau terdorong, tergerak dan bertindak secara nyata untuk mewujudkan PERDAMAIAN & KEAMANAN itu.

Indahnya kata-kata dalam pidato Benjamin Netanyahu di pertengahan bulan Juni ini, semakin menguatkan secercah harapan yang ada di hati rakyat Palestina dan Israel. Dan sulit untuk tidak mempercayai figur Benjamin Netanyahu, sebab pastilah ia bukan tipikal yang asal ngecap, asal bunyi, asal ngember, dan asal “TEBAR PESONA” untuk mempertontonkan retorika-retorika yang mendunia.

Benjamin Netanyahu tentu tahu konsenkuensi dari sebuah JANJI yang disampaikan dari mulut seorang pemimpin yaitu janji itu haruslah ditepati secepatnya secara baik dan benar. Mengikis semua permusuhan dan peperangan yang gendang kebenciannya sudah menelan begitu banyak korban nyawa, harta, benda dan nilai-nilai kemanusiaan yang paling mendasar.

Sekali lagi, kami mengulangi bahwa korban terbesar dari peperangan yang penuh “keabadian” ini adalah anak-anak dan perempuan.

Sekali lagi, kami mengulangi bahwa kepedihan dari peperangan yang penuh “keabadian” ini adalah berterbangannya nyawa secara sia-sia tanpa ada yang bisa menyatakan dirinya sebagai pemenang yang berhak meraih dan mengangkat piala arogansi yang berkilauan.

Sebab, piala dari peperangan itu tak akan pernah mengeluarkan kilauan yang indah dan memukau semua mata yang memandang. Sebab, piala dalam medan pertempuan adalah piala yang berlumuran darah dan airmata.

Setiap pemimpin dunia di muka bumi ini, terutama yang terkait dalam upaya mendamaikan Israel dan Palestina — termasuk yang secara gigih mendorong berdirinya negara PALESTINA yang merdeka — pasti dengan mudah menyuarakan pidato-pidato yang indah, yaitu pidato yang penuh dengan kata-kata yang berbumbu, bersayap dan berasesori sangat padat.

Sehingga kadang-kadang, orang yang mendengarkan saja sudah kebingungan. Apakah harus mengagumi dan mempercayai pidato itu, atau malah mengutuk dan tidak mempercayai semua rangkaian kata yang seakan-akan sungguh tak bermakna karena terkesn OMDO alias OMONG DOANG.

Photo by GPO

Tapi semoga, apa yang dipidatokan oleh Benjamin Netanyahu, bukanlah bagian dari pidato yang penuh retorika dan omong kosong berkepanjangan.

Atmosfir kekerasan yang menyelimuti langit di atas Israel dan Palestina, sudah tak bisa menunggu terlalu lama. Sudah tak mungkin dipaksa untuk diam tak bergeming untuk mendengarkan lebih banyak lagi pidato demi pidato dari seluruh pemimpin dunia yang hobi atau kemampuannya cuma berpidato saja dari kejauhan untuk mendorong Israel dan Palestina berdamai.

Apa arti dari seruan-seruan jarak jauh, jika ternyata pada prakteknya di lapangan dentuman bom dan rentetan tembakan masih merajalela di garis terdepan peperangan itu sendiri ?

Itulah sebabnya, meminjam sebuah judul lagu yang sedang “naik daun” di Indonesia ini, ingin rasanya menyampaikan sebuah harapan yang lebih kuat kepada Benjamin Netanyahu & Israel :

“SUARA, DENGARKANLAH AKU … !”

Dengarkanlah aku, dan semua warga dunia yang ingin agar peperangan itu benar-benar dihentikan. Kasihani kami dan semua rakyat disana (di Israel dan Palestina) yang mendambakan agar mubazirnya nyawa yang berterbangan selama ini dalam nafas peperangan yang brutal, segera dihentikan !

Dengarkanlah aku dan semua warga dunia yang ingin agar kehidupan di Israel dan Palestina sungguh berjalan dengan sangat apa adanya yaitu kehidupan yang aman, nyaman, tenteram dan tidak dengan mudah membunuhi siapa saja yang dianggap sebagai lawan atau musuh bebuyutan !

Dengarkanlah aku dan semua warga dunia yang sangat tersayat hatinya bila mendengar atau melihat tayangan-tayangan gambar pada pemberitaan media massa, begitu banyak anak-anak, perempuan, kaum lansia dan rakyat kecil yang tak berdaya menjadi korban keganasan amunisi-amunisi arogansi antar pihak yang bertikai dalam semua lini peperangan di muka bumi ini — khususnya di Israel dan Palestina –.

“Suara, DENGARKANLAH AKU !”

Memang hanya bagian judul yang kami pinjam untuk mewakili kuatnya harapan tentang mendesaknya perdamaian dan keamanan di kawasan Israel dan Palestina.

Tapi bila peperangan itu sungguh diakhiri, tak mustahil lagu yang sangat indah berjudul “SUARA, DENGARKANLAH AKU !” ini bisa dinyanyikan dengan hati yang sangat hidup dan penuh damai oleh siapapun yang ingin saling mencintai dan menjalin tali kasih antar 2 anak manusia yang ada di Israel dan Palestina bila nanti peperangan itu benar-benar diakhiri.

Saling mencintai dalam alam perdamaian yang sesungguhnya dan kesejatian.

Benjamin Netanyahu, DENGARKANLAH AKU, tepati janjimu hai kesatria sejati ! Dan lakukan segala sesuatu yang baik (demi kemanusiaan), untuk KEMULIAAN ALLAH.

Ad Majorem Dei Gloriam.

(ms)

L A M P I R A N :

Pidato Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu Yang Terfokus Pada Komitmen Untuk Mewujudkan Perdamaian Dan Keamanan
Address by Prime Minister Benjamin Netanyahu at the Begin-Sadat (BESA) Center for Strategic Studies, Bar-Ilan University (June 14, 2009)

Honored guests, citizens of Israel.

Peace has always been our peoples most ardent desire. Our prophets gave the world the vision of peace, we greet one another with wishes of peace, and our prayers conclude with the word peace.

We are gathered this evening in an institution named for two pioneers of peace, Menachem Begin and Anwar Sadat, and we share in their vision.

Two and half months ago, I took the oath of office as the Prime Minister of Israel. I pledged to establish a national unity government – and I did. I believed and I still believe that unity was essential for us now more than ever as we face three immense challenges – the Iranian threat, the economic crisis, and the advancement of peace.

The Iranian threat looms large before us, as was further demonstrated yesterday. The greatest danger confronting Israel, the Middle East, the entire world and human race, is the nexus between radical Islam and nuclear weapons. I discussed this issue with President Obama during my recent visit to Washington, and I will raise it again in my meetings next week with European leaders. For years, I have been working tirelessly to forge an international alliance to prevent Iran from acquiring nuclear weapons.

Confronting a global economic crisis, the government acted swiftly to stabilize Israels economy. We passed a two year budget in the government – and the Knesset will soon approve it.

And the third challenge, so exceedingly important, is the advancement of peace. I also spoke about this with President Obama, and I fully support the idea of a regional peace that he is leading.

I share the Presidents desire to bring about a new era of reconciliation in our region. To this end, I met with President Mubarak in Egypt, and King Abdullah in Jordan, to elicit the support of these leaders in expanding the circle of peace in our region. I turn to all Arab leaders tonight and I say: “Let us meet. Let us speak of peace and let us make peace.” I am ready to meet with you at any time. I am willing to go to Damascus, to Riyadh, to Beirut, to any place- including Jerusalem.

I call on the Arab countries to cooperate with the Palestinians and with us to advance an economic peace. An economic peace is not a substitute for a political peace, but an important element to achieving it. Together, we can undertake projects to overcome the scarcities of our region, like water desalination or to maximize its advantages, like developing solar energy, or laying gas and petroleum lines, and transportation links between Asia, Africa and Europe.

The economic success of the Gulf States has impressed us all and it has impressed me. I call on the talented entrepreneurs of the Arab world to come and invest here and to assist the Palestinians – and us – in spurring the economy. Together, we can develop industrial areas that will generate thousands of jobs and create tourist sites that will attract millions of visitors eager to walk in the footsteps of history – in Nazareth and in Bethlehem, around the walls of Jericho and the walls of Jerusalem, on the banks of the Sea of Galilee and the baptismal site of the Jordan. There is an enormous potential for archeological tourism, if we can only learn to cooperate and to develop it.

I turn to you, our Palestinian neighbors, led by the Palestinian Authority, and I say: Lets begin negotiations immediately without preconditions.

Israel is obligated by its international commitments and expects all parties to keep their commitments. We want to live with you in peace, as good neighbors. We want our children and your children to never again experience war: that parents, brothers and sisters will never again know the agony of losing loved ones in battle; that our children will be able to dream of a better future and realize that dream; and that together we will invest our energies in plowshares and pruning hooks, not swords and spears.

I know the face of war. I have experienced battle. I lost close friends, I lost a brother. I have seen the pain of bereaved families. I do not want war. No one in Israel wants war.

If we join hands and work together for peace, there is no limit to the development and prosperity we can achieve for our two peoples – in the economy, agriculture, trade, tourism and education – most importantly, in providing our youth a better world in which to live, a life full of tranquility, creativity, opportunity and hope.

If the advantages of peace are so evident, we must ask ourselves why peace remains so remote, even as our hand remains outstretched to peace? Why has this conflict continued for more than sixty years?

In order to bring an end to the conflict, we must give an honest and forthright answer to the question: What is the root of the conflict?

In his speech to the first Zionist Conference in Basel, the founder of the Zionist movement, Theodore Herzl, said about the Jewish national home “This idea is so big that we must speak of it only in the simplest terms.” Today, I will speak about the immense challenge of peace in the simplest words possible.

Even as we look toward the horizon, we must be firmly connected to reality, to the truth. And the simple truth is that the root of the conflict was, and remains, the refusal to recognize the right of the Jewish people to a state of their own, in their historic homeland.

In 1947, when the United Nations proposed the partition plan of a Jewish state and an Arab state, the entire Arab world rejected the resolution. The Jewish community, by contrast, welcomed it by dancing and rejoicing. The Arabs rejected any Jewish state, in any borders.

Those who think that the continued enmity toward Israel is a product of our presence in Judea, Samaria and Gaza, is confusing cause and consequence. The attacks against us began in the 1920s, escalated into a comprehensive attack in 1948 with the declaration of Israels independence, continued with the fedayeen attacks in the 1950s, and climaxed in 1967, on the eve of the Six-Day War, in an attempt to tighten a noose around the neck of the State of Israel. All this occurred during the fifty years before a single Israeli soldier ever set foot in Judea and Samaria.

Fortunately, Egypt and Jordan left this circle of enmity. The signing of peace treaties have brought about an end to their claims against Israel, an end to the conflict. But to our regret, this is not the case with the Palestinians. The closer we get to an agreement with them, the further they retreat and raise demands that are inconsistent with a true desire to end the conflict.

Many good people have told us that withdrawal from territories is the key to peace with the Palestinians. Well, we withdrew. But the fact is that every withdrawal was met with massive waves of terror, by suicide bombers and thousands of missiles.

We tried to withdraw with an agreement and without an agreement. We tried a partial withdrawal and a full withdrawal. In 2000 and again last year, Israel proposed an almost total withdrawal in exchange for an end to the conflict, and twice our offers were rejected. We evacuated every last inch of the Gaza strip, we uprooted tens of settlements and evicted of Israelis from their homes, and in response, we received a hail of missiles on our cities, towns and children.

The claim that territorial withdrawals will bring peace with the Palestinians, or at least advance peace, has up till now not stood the test of reality. In addition to this, Hamas in the south, like Hizbullah in the north, repeatedly proclaims their commitment to “liberate” the Israeli cities of Ashkelon, Beersheba, Acre and Haifa.

Territorial withdrawals have not lessened the hatred, and to our regret, Palestinian moderates are not yet ready to say the simple words: Israel is the nation-state of the Jewish people, and it will stay that way.

Achieving peace will require courage and candor from both sides, and not only from the Israeli side. The Palestinian leadership must arise and say: “Enough of this conflict. We recognize the right of the Jewish people to a state of their own in this land, and we are prepared to live beside you in true peace.”

I am yearning for that moment, for when Palestinian leaders say those words to our people and to their people, then a path will be opened to resolving all the problems between our peoples, no matter how complex they may be. Therefore, a fundamental prerequisite for ending the conflict is a public, binding and unequivocal Palestinian recognition of Israel as the nation state of the Jewish people. To vest this declaration with practical meaning, there must also be a clear understanding that the Palestinian refugee problem will be resolved outside Israels borders. For it is clear that any demand for resettling Palestinian refugees within Israel undermines Israels continued existence as the state of the Jewish people.

The Palestinian refugee problem must be solved, and it can be solved, as we ourselves proved in a similar situation. Tiny Israel successfully absorbed tens of thousands of Jewish refugees who left their homes and belongings in Arab countries. Therefore, justice and logic demand that the Palestinian refugee problem be solved outside Israels borders. On this point, there is a broad national consensus. I believe that with goodwill and international investment, this humanitarian problem can be permanently resolved.

So far I have spoken about the need for Palestinians to recognize our rights. In am moment, I will speak openly about our need to recognize their rights. But let me first say that the connection between the Jewish people and the Land of Israel has lasted for more than 3500 years. Judea and Samaria, the places where Abraham, Isaac, and Jacob, David and Solomon, and Isaiah and Jeremiah lived, are not alien to us. This is the land of our forefathers.

The right of the Jewish people to a state in the land of Israel does not derive from the catastrophes that have plagued our people. True, for 2000 years the Jewish people suffered expulsions, pogroms, blood libels, and massacres which culminated in a Holocaust – a suffering which has no parallel in human history. There are those who say that if the Holocaust had not occurred, the state of Israel would never have been established. But I say that if the state of Israel would have been established earlier, the Holocaust would not have occured.

This tragic history of powerlessness explains why the Jewish people need a sovereign power of self-defense. But our right to build our sovereign state here, in the land of Israel, arises from one simple fact: this is the homeland of the Jewish people, this is where our identity was forged.

As Israels first Prime Minister David Ben-Gurion proclaimed in Israels Declaration of Independence: “The Jewish people arose in the land of Israel and it was here that its spiritual, religious and political character was shaped. Here they attained their sovereignty, and here they bequeathed to the world their national and cultural treasures, and the most eternal of books.”

But we must also tell the truth in its entirety: within this homeland lives a large Palestinian community. We do not want to rule over them, we do not want to govern their lives, we do not want to impose either our flag or our culture on them.

In my vision of peace, in this small land of ours, two peoples live freely, side-by-side, in amity and mutual respect. Each will have its own flag, its own national anthem, its own government. Neither will threaten the security or survival of the other. These two realities – our connection to the land of Israel, and the Palestinian population living within it – have created deep divisions in Israeli society. But the truth is that we have much more that unites us than divides us.

I have come tonight to give expression to that unity, and to the principles of peace and security on which there is broad agreement within Israeli society. These are the principles that guide our policy. This policy must take into account the international situation that has recently developed. We must recognize this reality and at the same time stand firmly on those principles essential for Israel.

I have already stressed the first principle – recognition. Palestinians must clearly and unambiguously recognize Israel as the state of the Jewish people.

The second principle is: demilitarization. The territory under Palestinian control must be demilitarized with ironclad security provisions for Israel. Without these two conditions, there is a real danger that an armed Palestinian state would emerge that would become another terrorist base against the Jewish state, such as the one in Gaza. We don want Kassam rockets on Petach Tikva, Grad rockets on Tel Aviv, or missiles on Ben-Gurion airport. We want peace.

In order to achieve peace, we must ensure that Palestinians will not be able to import missiles into their territory, to field an army, to close their airspace to us, or to make pacts with the likes of Hizbullah and Iran. On this point as well, there is wide consensus within Israel. It is impossible to expect us to agree in advance to the principle of a Palestinian state without assurances that this state will be demilitarized. On a matter so critical to the existence of Israel, we must first have our security needs addressed.

Therefore, today we ask our friends in the international community, led by the United States, for what is critical to the security of Israel: Clear commitments that in a future peace agreement, the territory controlled by the Palestinians will be demilitarized: namely, without an army, without control of its airspace, and with effective security measures to prevent weapons smuggling into the territory – real monitoring, and not what occurs in Gaza today. And obviously, the Palestinians will not be able to forge military pacts. Without this, sooner or later, these territories will become another Hamastan. And that we cannot accept.

I told President Obama when I was in Washington that if we could agree on the substance, then the terminology would not pose a problem. And here is the substance that I now state clearly:

If we receive this guarantee regarding demilitirization and Israels security needs, and if the Palestinians recognize Israel as the State of the Jewish people, then we will be ready in a future peace agreement to reach a solution where a demilitarized Palestinian state exists alongside the Jewish state.

Regarding the remaining important issues that will be discussed as part of the final settlement, my positions are known: Israel needs defensible borders, and Jerusalem must remain the united capital of Israel with continued religious freedom for all faiths. The territorial question will be discussed as part of the final peace agreement. In the meantime, we have no intention of building new settlements or of expropriating additional land for existing settlements.

But there is a need to enable the residents to live normal lives, to allow mothers and fathers to raise their children like families elsewhere. The settlers are neither the enemies of the people nor the enemies of peace. Rather, they are an integral part of our people, a principled, pioneering and Zionist public.

Unity among us is essential and will help us achieve reconciliation with our neighbors. That reconciliation must already begin by altering existing realities. I believe that a strong Palestinian economy will strengthen peace.

If the Palestinians turn toward peace – in fighting terror, in strengthening governance and the rule of law, in educating their children for peace and in stopping incitement against Israel – we will do our part in making every effort to facilitate freedom of movement and access, and to enable them to develop their economy. All of this will help us advance a peace treaty between us.

Above all else, the Palestinians must decide between the path of peace and the path of Hamas. The Palestinian Authority will have to establish the rule of law in Gaza and overcome Hamas. Israel will not sit at the negotiating table with terrorists who seek their destruction. Hamas will not even allow the Red Cross to visit our kidnapped soldier Gilad Shalit, who has spent three years in captivity, cut off from his parents, his family and his people. We are committed to bringing him home, healthy and safe.

With a Palestinian leadership committed to peace, with the active participation of the Arab world, and the support of the United States and the international community, there is no reason why we cannot achieve a breakthrough to peace.

Our people have already proven that we can do the impossible. Over the past 61 years, while constantly defending our existence, we have performed wonders.

Our microchips are powering the worlds computers. Our medicines are treating diseases once considered incurable. Our drip irrigation is bringing arid lands back to life across the globe. And Israeli scientists are expanding the boundaries of human knowledge. If only our neighbors would respond to our call – peace too will be in our reach.

I call on the leaders of the Arab world and on the Palestinian leadership, let us continue together on the path of Menahem Begin and Anwar Sadat, Yitzhak Rabin and King Hussein. Let us realize the vision of the prophet Isaiah, who in Jerusalem 2700 years ago said: “nations shall not lift up sword against nation, and they shall learn war no more.”

With Gods help, we will know no more war. We will know peace.

BENJAMIN_NETANYAHU

L A M P I R A N :

Menanti Sang Prajurit Komando Bernama BENJAMIN NETANYAHU Menepati Janjinya Mewujudkan Perdamaian & Keamanan


Jakarta 8/6/2009 (KATAKAMI) Pekan ini, rencananya Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu akan menyampaikan pidato kebijakannya yang akan mencakup masalah perdamaian dan keamanan. Hal itu disampaikannya dalam rapat kabinet di negaranya hari Minggu (7/6/2009) kemarin. Netanyahu menegaskan misi penting kabinetnya untuk meraih perdamaian dengan Palestina dan Negara-Negara Arab.

Atau, tepatnya yang diucapkan oleh Perdana Menteri Netanyahu adalah :

“We want to achieve peace with the Palestinians and with the countries of the Arab world, while attempting to reach maximum understanding with the US and our friends around the world. My aspiration is to achieve a stable peace that rests on a solid foundation of security for the State of Israel and its citizens. Next week, I will make a major diplomatic speech in which I will present the citizens of Israel with our principles for achieving peace and security. Ahead of the speech, I intend to listen to the opinions of the coalition partners and other elements among the Israeli public.”

Sinyalemen dari bapak 3 anak ini, cukup positif dan tentu dinantikan oleh semua pihak. Tentu saja ini dinantikan karena kebijakan yang akan dijabarkan oleh kabinet baru yang dipimpim Netanyahu ini akan sangat menentukan bagaimana masa depan rekonsiliasi antara Israel dan Palestina.

Kabinet yang dilantik pada 31 Maret 2009 ini, diharapkan oleh semua pihak untuk bisa menjadi motor penggerak yang akan membawa Israel dan Palestina bisa secara nyata bertetangga dengan baik. Walaupun sebenarnya, praktek di lapangan akan sangat sulit.

Berbicara mengenai mengenai Palestina, maka semua pihak harus mengakui bahwa ada “unsur” HAMAS yang sangat radikal didalamnya.

Dan sepanjang tingkat radikalisme HAMAS tak bisa dikendalikan atau mengendalikan diri maka kebijakan-kebijakan yang dibuat sangat positif oleh Israel dan Palestina, akan menjadi sia-sia. Jangan ada lagi provokasi yang disengaja untuk memancing kemarahan atau memicu peperangan. Jangan ada lagi provokasi tak bersahabat lewat dentuman ratusan mortir HAMAS yang menari-nari dalam menggempur ISRAEL di malam Natal, malam sakral yang sangat dihormati oleh Umat Kristiani diseluruh dunia. Akibatnya, pecahlah peperangan sengit yang sangat memedihkan hati semua bangsa didunia ini periode akhir tahun 2008 sampai memasuki minggu-minggu pertama di awal tahun 2009 lalu.

Dan kini, pernyataan dan pengakuan dari Netanyahu bahwa pihaknya siap untuk mewujudkan perdamaian dengan Palestina dan Negara-Negara Arab, adalah poin penting yang harus digaris-bawahi oleh semua pihak. Artinya, dengan menggaris-bawahi itikat baik dari Israel menjalin dan mewujudkan perdamaian tadi, perlu didukung.

Dukungan internasional terhadap “ROAD MAP” atau “PETA JALAN” menuju perdamaian tadi, jangan diimplementasikan lewat tutur kata, perbuatan atau kebijakan yang terkesan menggurui dan memaksa Israel agar sepenuhnya berada dibawah kendali pihak lain diluar kedua belah pihak yang “head to head” berhadap-hadapan di lapangan yaitu Israel dan Palestina.

Bayangkan jika sebuah negara, terlukai martabatnya hanya karena terkesan digurui atau dikendalikan.

Percayakanlah saja bahwa sepenuhnya pernyataan dan pengakuan Kabinet Netanyahu memang akan diwujudkan sebagaimana mestinya.

Click to enlargeNetanyahu, berlatar-belakang militer.

Netanyahu, berlatar-belakang militer.

Jika membaca rekam jejak perjalanan kariernya, tahun 1967-1972 Netanyahu bergabung menjadi PASUKAN KOMANDO KHUSUS / PASUKAN ELITE ISRAEL (semacam Pasukan Kopassus kalau di Indonesia). Bahkan ia ikut dalam operasi khusus yang membanggakan seperti operasi penyelamatan terhadap pembajakan pesawat Sabena tahun 1972.

Jiwa “Komando” yaitu prajurit sejati yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah misi khusus yang sangat penting, akan tetap terpatri sampai kapanpun dalam diri Netanyahu.

Jiwa “Komando” yaitu prajurit yang dilatih dengan kemampuan khusus yang sangat tinggi dan hebat, tetap diharuskan menghormati dan mengedepankan keselamatan perempuan dan anak-anak.

Disini, Netanyahu tentu menyadari di kedalaman hatinya bahwa jika pertempuran dan perseteruan yang berkepanjangan, berlarut-larut dan tak pernah berkesudahan sepanjang masa, sudah dapat dipastikan hanya akan memperbanyak jumlah korban di pihak sipil yang didalamnya terdapat begitu banyak anak-anak dan perempuan dari kedua belah pihak (Israel dan Palestina).

Tolong, jangan lagi ada peperangan yang sangat berkepanjangan. Dengarkan jerit tangis anak-anak dan perempuan yang menjadi sangat tersiksa dan tercekam dalam api peperangan yang sangat mengerikan. Jangankan untuk mendapatkan mimpi indah dalam tidur di siang atau malam hari, bahkan untuk tidur pun sudah tak ada yang berani jika api peperangan itu berkobar tanpa henti.

Sara and Binyamin NetanyahuNetanyahu honors his late brotherPhoto(china)photo (school)

Dalam kehidupan di muka bumi ini, semua orang pasti sudah pernah mendengar kalimat indah yang mengatakan bahwa “Surga Berada Di Telapak Kaki Ibu”.

Itu menandakan bahwa kaum perempuan, adalah sentral dari misi perdamaian yang perlu dicapai oleh negara manapun yang berlomba memuntahkan amunisi-amunisi peperangan yang mematikan.

Tetapi, didalam injil juga disebutkan hal lain yang berkaitan dengan surga yaitu anak-anak kecil adalah pihak yang paling diutamakan oleh Surga.

Ini bukan dimaksudkan bahwa setiap pertempuran atau peperangan di belahan manapun didunia ini, sangat sah dan dapat ditolerir jika menembaki pihak musuhnya tetapi ribuan anumisi atau ledakan-ledakan mortir mematikan itu justru menewaskan anak-anak kecil (bahkan bayi).

Pemahamannya justru harus dibalik bahwa dalam kehidupan secara universal, keselamatan anak-anak harus diutamakan dan dikedepankan.

Tanpa bermaksud untuk menyalahkan pihak manapun juga di Israel dan Palestina, cobalah hitung berapa perempuan dan anak-anak yang sudah bertumbangan dan berterbangan nyawanya karena gempuran sengit kalangan bersenjata.

Pidato kebijakan yang akan disampaikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjadi secercah harapan baru tentang akan terwujudnya perdamaian dan keamanan di Timur Tengah, terutama antara Israel dan Palestina.

Kesatria sejati tidak akan pernah menarik ucapannya, jika ucapan itu telah dikumandangkan secara resmi dan terbuka.

Kesatria sejati tidak akan pernah mengingkari janjinya, jika nafas utama dari janji itu adalah untuk ikut berpartisipasi dalam mewujudkan perdamaian dan keamanan dunia.

Kesatria sejati tidak akan pernah “lagi” menutup mata hati dan mata imannya terhadap perlunya melindungi dan tetap membiarkan anak-anak dan perempuan pada umumnya di kawasan Israel dan Palestina dapat hidup dengan tenteram dan damai (bukan justru hidup dalam belenggu peperangan yang jika salah melangkah sedikit saja, bisa berakibat fatal yaitu tewas tertembus peluru dari dua kubu yang tak henti berperang).

Dan kami sungguh mempercayai bahwa seorang Benjamin Netanyahu adalah kesatria sejati dan prajurit “Komando” yang akan bersungguh-sungguh melaksanakan ucapannya.

Semua pihak tentu menunggu dengan penuh harapan bahwa perdamaian dan keamanan yang sejati itu, bukan sekedar isapan jempol atau angan-angan yang mustahil menjadi kenyataan.

Sepanjang Israel memang satu suara dan satu antara perkataan serta perbuatannya, maka dalam mewujudkan perdamaian dan keamanan itu tak diperlukan banyak campur tangan dari pihak manapun.

Didalam injilpun disebutkan, apa sebenarnya dan bagaimana sesungguhnya yang Tuhan inginkan dari setiap negara atau setiap bangsa di muka bumi ini,

“Sungguh, Alangkah Baiknya & Indahnya, Apabila Saudara-Saudara Diam (Hidup) Bersama Dengan Rukun (Damai)” (Mazmur 133).

Sehingga, dengan segala daya nalar dan logika dari akal sehat yang tetap dimiliki oleh semua anak manusia di muka bumi ini, “janji” untuk mewujudkan perdamaian dan keamanan yang sejati itu dinantikan dari Benjamin Netanyahu.

Just do it and please go for it, Sir !

Prajurit dari PASUKAN ELITE yang sejati, tak akan pernah mengingkari nilai paling hakiki yang ditanamkan dalam jiwa dan raganya bahwa apa yang terbaik baik “rakyat” secara keseluruhan, maka itulah yang terbaik untuk dilakukan.

KOMANDO !!!

(MS)